“Hei. Kamu membuat masalah dengannya?” tanya Naya, meski mata gadis itu hanya terpaku pada Ryan yang semakin menjauh.
Tangan Arva perlahan turun. “Nggak ada. Aku juga bingung kenapa dia tiba-tiba begitu.”
Tidak ada respons dari Naya. Arva melanjutkan makan, sebelum akhirnya Naya berkata. “Kayaknya dia merasa bersalah.”
Mata Arva seketika membelalak, tak menangkap maksud Naya. “Bersalah? Itu aneh.”
Naya akhirnya menoleh pada Arva, tatapannya seakan tidak percaya dengan ucapan Arva barusan.
“Serius? Gak tau?”
Mata Arva hanya berkedip beberapa kali, tapi itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Naya. Naya menghela napas kasar, ia menyibak kasar rambutnya.
“Aku tanya sekarang. Sofia itu mantan siapa?”
“Mantan Ryan—”
Ucapan Arva terpotong sendiri. Gadis itu baru menyadari hal penting itu sekarang.
Naya menangkap reaksi itu, dan tangannya terulur cepat mengambil sendok di tangan Arva. “Dasar bodoh.”
“Ka-kalau gitu, sekarang aku harus bicara dengannya.”
Naya hanya mengangguk, tak peduli dengan apa pun lagi. Sendoknya mengambil perlahan kue coklat di piring Arva.
“Ya. Bicaralah.”
Tanpa aba-aba, Arva bangkit berdiri, hendak melangkah mengejar Ryan. Tapi lengannya ditahan begitu saja oleh Naya.
“Mau ke mana?”
Dahi Arva berkerut dalam, padahal jelas Naya barusan menyuruhnya untuk bicara pada Ryan.
“Bicara dengan Ryan. Kan, kamu yang tadi suruh?!”
Naya memutar bola matanya malas, jelas mulai kehabisan kesabaran. “Nggak sekarang juga!”
Arva menepis kasar genggaman Naya, tatapannya berubah tajam ke arah gadis itu. “Lalu kapan?! Kalau dibiarin gitu aja, dia akan terus merasa bersalah sama hal yang nggak dia lakuin.”
Naya mendecih kasar, kepalanya kembali menoleh pada kue, tidak lagi peduli pada Arva. “Terserah aja. Aku cuman mau bilang satu hal. Biarin dia sendiri dulu, jernihin pikirannya baru setelah itu kamu bisa ajak dia bicara.”
Tubuh Arva membeku, ucapan Naya benar. Ryan sekarang pasti sedang kalut, dan dirinya yang seperti itu tidak akan mungkin mendengar semua ucapan Arva.
Arva melangkah pelan, kembali duduk di kursinya, dan mengambil kasar piring dari hadapan Naya.
“Hei! Aku lagi makan!”
“Berbagi sedikit nggak masalah, kan?”
Naya memanyunkan bibirnya, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Ya. Ya.”