Mata Ryan berkedip beberapa kali. “Kau ternyata serius.”
“Udah pasti dong, aku gak akan ingkarin janji—”
Laki-laki itu menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan Arva. Hingga jarak di antara mereka nyaris tipis.
Arva tanpa sadar menahan napasnya, ia tidak berusaha mundur. Tubuhnya membeku, seolah ada paku yang tertancap di kakinya.
Ryan mengulas senyum tipis di bibirnya. “Tapi aku nggak pernah nyetujuin itu. Jadi janji itu gak berlaku, kan?”
Laki-laki itu menegakkan tubuhnya, lalu mengulas seringai tipis. “Kita temanan dulu. Kalau kamu sudah yakin sama perasaanmu. Kamu bisa terima aku.”
Arva tidak menjawab apa pun. Tubuhnya tidak bergerak sedikit pun sedari tadi.
Ryan menatap lama gadis itu, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkannya.
***
“Aku pulang!” seru Arva, masih melepaskan sepatunya perlahan.
“Oh? Putri Ayah sudah pulang!”
Tangan Arva yang masih melepas sepatunya berhenti seketika. Kepalanya menoleh perlahan ke dalam, mencoba memastikan ia tidak salah dengar.
“Ayah?” panggil Arva, mencoba memastikan.
Kepala pria tua itu menyembul keluar dari dapur. Dan seketika gadis itu dengan cepat membuang sepatunya asal-asalan.
“Ayah ngapain?!” seru Arva begitu sampai di dapur. Kaus kakinya masih belum terlepas di sana.
Pria tua itu menoleh cepat, senyum tipis terukir di sana. “Ayah lagi masak.”
Dahi Arva berkerut dalam, dan tanpa aba-aba ia melangkah maju dan mengambil alih spatula dari tangan pria tua itu.
“Biar aku aja.”
“Loh? Kenapa? Hari ini biar Ayah yang masak aja—”
“Masakan Ayah gak enak.”
Arva tahu ia bicara terlalu blak-blakan. Tapi, kalau dibiarkan begitu saja. Maka ia dan ibunya terpaksa memakan makanan itu sambil menahan muntah, sama seperti dulu.
Raut wajah pria tua itu berubah murung, tidak ada lagi senyum yang terpasang di sana. “Jahat sekali ucapanmu itu.”
Tangan gadis itu fokus mengaduk di kuali, ia bahkan tidak menoleh sedikit pun pada ayahnya.