Kriet!
Kepala Evan menoleh cepat.
Dokter itu melangkah mendekat dan berhenti di antara mereka. “Apa—”
“Bagaimana keadaan adik saya, Dok?” tanya Evan cepat.
Arva melirik Evan. Matanya berkedip beberapa kali, berusaha mencerna apa yang dikatakan Evan.
Dokter itu hanya mengulas senyum tipis. “Kondisinya sekarang baik-baik saja. Dia akan segera sadar.”
Evan akhirnya menghela napas lega, dan bahunya yang sedari tadi menegang akhirnya menurun.
“Syukurlah dia baik-baik saja ….” Gumamnya pelan, nyaris berbisik.
“Kalau begitu saya pergi dulu,” ucap dokter itu, senyumnya masih terpasang di sana.
Evan akhirnya tersenyum tipis, lalu ia mundur memberi jalan pada pria itu. “Terima kasih.”
Dokter itu tidak menjawab, ia hanya mengangguk sekali sebelum akhirnya melangkah pergi begitu saja.
Arva menatap lama punggung pria itu sebelum akhirnya tatapannya kembali pada Evan. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan.
Tapi gadis itu merasa, lebih baik ia tidak menanyakannya. Evan tidak pernah menceritakan soal keluarganya, jadi mungkin laki-laki itu juga tidak mau membahas hal ini.
“Apa anak itu adikmu?” tanya pria tua itu tanpa menyembunyikan rasa penasarannya.
Mata Arva membelalak, lalu ia membalikkan tubuhnya cepat. Padahal ia sudah capek-capek menahan rasa penasarannya. Tapi, ayahnya malah menanyakan itu terang-terangan.
“Ayah ….” Bisik Arva, kedua tangannya disilangkan memberi isyarat agar ayahnya berhenti bertanya.
Tapi pria tua itu malah menelengkan kepalanya. “Kamu kenapa?”
Arva melangkah mendekat, dan berjinjit. Ia berbisik tepat di telinga pria tua itu. “Ayah, ini bukan saatnya bertanya seperti itu pada Eva—”
Ucapan gadis itu terpotong sendiri. Matanya menangkap suster yang mulai mendorong brankar, dan di brankar itu terbaring laki-laki itu. Adiknya Evan.
***
“Ayah, mau ke mana?” bisik Arva sangat pelan.
Pria tua itu menundukkan kepalanya, lalu memberikan telinganya pada gadis itu. “Kau bilang apa, sih? Ayah tidak dengar.”
Arva mendecih kasar, lalu berbisik lagi kali ini lebih keras. “Ayah, kita nggak bisa masuk gitu aja!”