Dunia Cermin

Celyn
Chapter #16

Bab 16: Gadis Berponi

Dokter? Tapi Arva sama sekali tidak ingat ia pernah berteman dengan seorang dokter.

“Aku sudah lupa sedikit. Memangnya siapa, ya?” tanyanya ragu-ragu, berusaha keras untuk tidak terdengar mencurigakan.

Pria tua itu menghela napas kasar. “Bisa-bisanya kau lupa. Padahal dia udah banyak bantuin kamu pas operasi.”

Tubuh Arva membeku, tapi kakinya terus saja melangkah. Gadis itu selama ini tidak pernah dioperasi. Jangankan operasi, ia bahkan tidak pernah ke rumah sakit.

Arva mengalihkan pandangannya. “Ahh ... ternyata dia.”

Meski gadis itu berpura-pura mengerti, tapi sebenarnya ia tidak ingat apa pun. Sepertinya, itu adalah memori tentang ‘Arva dunia ini’.

Terkadang ia selalu merutuki dunia ini, kenapa memori ‘Arva di sini’ tidak diprogram ke dalam otaknya. Dan sekarang, ia harus berusaha keras terlihat normal sambil terus menjalankan keseharian ‘Arva yang lain’.

“Oh! Itu dia ada di sana.”

Tubuh Arva membeku seketika, sosok itu berdiri tak jauh darinya dan juga ayahnya. Tapi sosok itu, ia tak salah lihat, kan?

 Pria tua itu dengan cepat melangkah mendekat, dan menepuk keras bahu laki-laki itu.

“Gimana kabarmu?” tanya pria tua itu dengan riang.

Laki-laki itu memaksakan senyumnya. Mata panda di bawah matanya sangat tebal, kelihatannya ia sudah terlalu lelah.

“Ya. Saya baik-baik saja,” ucapnya dengan suara yang jatuh lemah, dan rendah.

“Eh? Kenapa tiba-tiba ngomong formal?” pria tua itu semakin melebarkan senyumnya.

Laki-laki itu menunduk perlahan, dan menatap lantai dengan lama. “Ah ... ini kebiasaan karena bertemu pasien.”

Pria tua itu tertawa pelan, lalu menepuk-nepuk kasar punggung laki-laki itu. Tawanya makin lama makin kencang.

“Kau ternyata sangat bekerja keras. Padahal terakhir aku melihatmu, kamu masih terlihat sangat segar.”

“Memangnya aku ikan?”

Tawa itu makin kencang, dan tak lama pria tua itu akhirnya membekap mulutnya sendiri. “Aku lupa. Tidak boleh berisik di sini.”

Arva masih membeku di sana, bahkan tidak melangkah mendekat sedikit pun. Ia tidak mungkin lupa pada sosok itu. Sosok itu adalah temannya sejak kecil yang sudah bertetangga lama dengannya.

Laki-laki itu dua tahun lebih tua darinya, sehingga Arva selalu menganggapnya sebagai kakaknya sendiri.

Tapi karena suatu hal, laki-laki itu tiba-tiba pindah. Berita buruknya, ia tidak mengatakan apa-apa padanya, dan meninggalkannya begitu saja.

Entah sejak kapan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dengan cepat, ia menggosok kasar matanya, dan gadis itu mengulas senyum tipis.

Lihat selengkapnya