Calvin duduk di meja kecil di sudut ruangan apartemennya yang sempit. Dindingnya, pudar dan penuh retakan halus, seperti lukisan yang dilupakan waktu. Aroma lembap kayu lapuk bercampur dengan bau obat-obatan dari kamar ibunya meresap di udara, menciptakan keheningan yang menekan. Suara detak jam tua di sudut ruangan menyanyikan lagu waktu yang seolah mengabaikan rasa penat yang menyelimuti. Di depan Calvin, cangkir kopi setengah penuh yang sudah lama dingin terabaikan. Matanya yang sayu menatap layar laptop, namun pikirannya terbang jauh, melayang dalam kehampaan yang tidak bisa dihindari.
Hari-hari Calvin selalu sama, berjalan dalam satu lingkaran tak berujung. Pagi bekerja paruh waktu di kedai kopi lokal yang redup, sore hingga malam merawat ibunya yang terbaring sakit. Tiada harapan yang muncul dari rutinitas ini, seakan hidup hanya menjadi pengulangan dari detik-detik yang berlalu tanpa makna. Calvin tak bisa menghilangkan rasa sakit yang lebih dalam, perasaan tak berdaya yang menggerogotinya dari dalam. Dunia di sekelilingnya seperti terus menggelap, membentuk bayangan tanpa bentuk yang menyesakkan dada.
Namun, bukan hanya itu yang menghantuinya. Ada sesuatu yang lebih besar-sesuatu yang tak bisa Calvin kendalikan. Itu adalah beban tak terlihat yang melilit hatinya, membatasi kebebasan yang dulu mungkin pernah ia miliki. Setiap langkahnya terasa seperti menyeret rantai, rantai tak kasat mata yang terus menariknya kembali pada kenangan masa kecil yang selalu gagal ia kubur.
Saat mencoba mengalihkan perhatiannya kembali pada pekerjaannya, pikirannya diserbu oleh potongan-potongan masa lalunya-pecahan kenangan yang menyakitkan, seolah ingin kembali dihidupkan. Kilasan perundungan yang ia alami di sekolah dasar kembali terputar, sebuah memori buram namun tak pernah benar-benar hilang. Suara-suara tawa sinis, tubuhnya terhuyung jatuh ke tanah berdebu, dan ejekan yang menghujam lebih tajam daripada pukulan. Dalam benaknya, Calvin terjebak dalam lingkaran waktu, dipaksa untuk merasakan kembali penghinaan yang tak pernah bisa ia lupakan.
Kepalan tangannya mengeras, jari-jari meremas kuat hingga buku-bukunya memutih. Ketika akhirnya ia membuka genggaman, bekas kuku tertinggal di telapak tangan, menjadi simbol luka yang tak pernah sembuh. Di antara jeda napasnya yang berat, suara samar terdengar di benaknya-suara batin yang selama bertahun-tahun membisikkan hal yang sama. “Kau tidak layak… Kau tidak cukup baik…” Sebuah mantra menyakitkan yang terus terulang, bahkan hingga saat ini.
Pandangannya beralih ke jendela. Di luar sana, mobil-mobil lewat, lampu-lampu jalan berkedip dalam kabut tipis. Pemandangan yang dulu terasa biasa kini tampak asing, menambah perasaan hampa yang merayap dari dalam dirinya. Rasanya seperti berdiri di ambang jurang yang tidak terlihat, hanya menunggu untuk jatuh ke dalam kegelapan.
Beberapa malam terakhir, Calvin mulai bermimpi aneh. Dalam mimpinya, ia berdiri di dataran luas yang tak pernah ia kenal. Langit di atasnya bukanlah biru atau kelabu seperti biasanya, melainkan lautan hitam pekat dengan bintang-bintang yang bersinar begitu terang hingga seakan menembus jiwanya. Tidak ada apa-apa di sekitar, hanya dirinya dan suara. Suara yang tak pernah ia dengar sebelumnya, namun terasa seakan berasal dari bagian terdalam dirinya. “Ini bukan Bumi,” suara itu berbisik, suaranya lembut namun tegas, seolah menggema langsung di dalam kepalanya. “Ini dunia di atasnya.”
Mimpi itu terus menghantui setiap malamnya, lebih nyata dan lebih hidup dari malam sebelumnya. Suara itu, meski samar, semakin keras, semakin mendesak untuk didengar. Calvin mencoba mengabaikannya, menganggap itu hanya bunga tidur akibat kelelahan, namun rasa aneh mulai muncul di dadanya setiap kali ia terbangun-seperti ada sesuatu yang tak lagi berada di tempatnya.
Suatu malam, hujan deras menghujam kota, mengirimkan gemuruh petir yang menggema dari kejauhan. Calvin terbangun, tubuhnya berkeringat meskipun udara dingin menusuk dari jendela yang sedikit terbuka. Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Ia merasakan kehadiran, kehadiran yang membuat bulu kuduknya meremang. Dingin itu tak hanya berasal dari luar, tapi juga dari dalam dirinya.
Tanpa sadar, Calvin berdiri dan menatap sekeliling kamarnya yang terasa asing, seakan baru pertama kali ia menginjakkan kaki di sana. Ia melangkah menuju jendela, ingin menarik tirai berat yang lembap dari embun malam. Namun sebelum tangannya menyentuh kain itu, suara itu datang lagi-kali ini lebih jelas daripada sebelumnya.
“Sudah waktunya, Calvin. Datanglah ke dunia di atas.”
Tiba-tiba, dunia di sekitarnya berubah. Di luar jendela, jalanan kota yang biasa ia lihat menghilang, digantikan oleh hamparan dataran kosong di bawah langit yang tanpa batas. Bintang-bintang bersinar lebih terang, seperti api kecil di angkasa, dan di kejauhan, gerbang besar berdiri kokoh, diterangi oleh sinar bulan yang misterius.