Dunia di Atas Bumi

rarapinku
Chapter #2

2. Dunia di Atas Bumi

Calvin terbangun dengan tubuh menggigil. Sesuatu terasa salah. Dingin yang menembus kulitnya bukan berasal dari ruangan apartemennya, melainkan dari tanah basah dan kasar di bawahnya. Ketika ia membuka mata, bukan lagi dinding kusam apartemennya yang menyambut, melainkan hamparan dataran luas yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Langit yang dulu kelam kini berpendar dengan warna yang terlalu cerah—terlalu indah, hampir menakutkan. Warna-warna seperti emas dan biru kristal bersatu, membentuk sapuan cahaya yang tidak mungkin ada di dunia nyata.

Calvin bangkit perlahan, tubuhnya terasa berat, dan perasaan aneh menjalari pikirannya. Udara di sekitarnya dingin, namun bukan dingin yang menggigit seperti malam di kota. Ini dingin yang mengalir lembut, seperti mengajak tubuhnya untuk tetap tenang meski pikirannya kacau. Dia berdiri dan mencoba mengenali tempat itu, tetapi yang ia lihat hanyalah dunia yang terasa tidak nyata. Dunia ini seperti Bumi, tapi jelas berbeda. Di kejauhan, bukit-bukit hijau membentang hingga menyentuh horizon, namun bukit itu seolah-olah berdenyut, hidup.

"Di mana aku?" gumamnya pada diri sendiri.

Di sekelilingnya, pohon-pohon besar yang menjulang ke langit tampak aneh. Daunnya berwarna perak yang berkilauan di bawah cahaya yang tak jelas sumbernya. Akar-akarnya menjalar di atas tanah, berdesir seperti ular. Calvin mengerutkan alis, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal. Namun, semakin lama dia memperhatikan, semakin banyak hal yang tak bisa dijelaskan. Sungai yang mengalir di dekatnya bukanlah sungai biasa. Airnya memancar ke atas, seperti tertarik oleh langit, melawan hukum alam yang seharusnya ia pahami.

Ia melangkah perlahan, matanya berusaha mencerna semua keanehan yang ia saksikan. Setiap langkah yang diambilnya terasa berat, bukan karena tubuhnya lelah, tapi karena pikirannya yang dipenuhi ketidakpastian. Dia tidak tahu di mana dia berada, dan lebih buruk lagi, dia tidak tahu bagaimana caranya kembali.

"Ini pasti mimpi," pikirnya. Namun, tidak ada mimpi yang terasa begitu nyata.

Seiring ia berjalan, udara terasa semakin aneh. Bukan hanya karena suasana magis yang mengelilinginya, tapi juga karena keheningan yang sangat dalam. Tidak ada suara kendaraan atau hiruk-pikuk kota. Hanya ada desiran angin yang membawa aroma tanah basah, dan gemuruh pelan dari air sungai yang seolah-olah menuju ke bintang. Calvin berusaha menenangkan diri, tetapi semakin jauh ia melangkah, semakin ia merasa terasing dan tak berdaya.

"Ini dunia di atas Bumi," suara yang ia dengar dalam mimpinya kembali menggema di benaknya. Tapi apa maksudnya? Apa dunia ini nyata?

Saat kebingungan dan ketakutannya mulai memuncak, tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

"Hei, Calvin!"

Calvin tersentak dan berbalik. Matanya melebar saat melihat sosok yang familiar berjalan menghampirinya. Itu Harry, sahabatnya di tempat kerja. Rambut cokelat kusutnya dan senyum lebar yang selalu terlihat di wajahnya tampak begitu kontras dengan kekacauan yang terjadi di dalam diri Calvin. Harry tampak sama ceria dan santainya seperti biasanya, seolah tidak ada yang aneh dengan dunia ini.

"Harry?" Calvin bertanya dengan suara terputus-putus, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Apa… apa yang kau lakukan di sini?"

Harry tertawa, berjalan lebih dekat dan menepuk punggung Calvin dengan penuh semangat.

"Sepertinya kita terjebak di dunia yang sama, sobat!" katanya, suaranya penuh humor, meskipun situasi ini jauh dari lucu. "Aneh, kan? Aku juga nggak tahu gimana bisa sampai di sini. Tiba-tiba aja, aku bangun di tengah hutan dan tiba-tiba sudah ada di dunia ini."

Calvin hanya bisa memandangnya, tak tahu harus berkata apa. Di satu sisi, ada sedikit rasa lega melihat wajah yang dikenal, namun di sisi lain, kehadiran Harry di dunia yang aneh ini justru semakin membuat semuanya terasa tidak masuk akal.

"Ini semua nggak masuk akal, Harry," kata Calvin, suaranya lemah.

"Aku bahkan nggak tahu gimana caranya aku sampai di sini. Dan tempat ini… tempat ini bukan Bumi."

Lihat selengkapnya