Dunia di Atas Bumi

rarapinku
Chapter #3

3. Konflik dan kegelisahan

Langkah kaki Harry terdengar ringan saat ia berjalan di depan, sesekali berhenti untuk menunggu Calvin yang tampak lebih lamban. Semenjak mereka tiba di dunia ini, Harry tidak henti-hentinya melontarkan lelucon dan berusaha meredakan ketegangan yang Calvin rasakan. Tetapi, suasana semakin aneh seiring mereka melanjutkan perjalanan tanpa arah jelas. Di tengah kepastian yang tidak ada, bayangan keraguan terus menghantui Calvin.

Di kejauhan, sebuah sosok mulai muncul, menunggu di ujung bukit kecil. Langit di belakangnya begitu terang, membentuk siluet yang sukar dikenali. Namun, semakin dekat mereka melangkah, semakin jelas siapa yang berdiri di sana.

"Dia datang," gumam Harry, senyum tipis terukir di bibirnya. Suaranya terdengar berbeda, sedikit tegang meskipun ia berusaha menyembunyikannya.

Calvin mengikuti arah pandangan Harry, dan dengan cepat hatinya tenggelam. Wanita itu berdiri tegak, rambut panjangnya berkibar tertiup angin dunia asing ini. Wajahnya terlihat menawan, namun tatapannya tajam dan penuh curiga. Ketika mereka semakin dekat, senyum tipis Harry memudar, dan Calvin merasakan udara di antara mereka berubah.

"Ini tunanganku, Yasmin." Kata Harry dengan sedikit kebingungan, seolah tidak yakin bagaimana memperkenalkan situasi yang baru ini.

Yasmin menatap Calvin dengan pandangan dingin, seolah menimbang-nimbang setiap langkahnya. Tidak ada sapaan ramah atau senyuman yang biasa diberikan seseorang kepada teman tunangannya. Sebaliknya, tatapan itu dipenuhi ketidakpercayaan. Dia berdiri tanpa bergerak, kedua tangannya bersedekap, ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali.

"Apa yang kau lakukan di sini dengan Harry?." Suaranya akhirnya terdengar, tajam dan langsung. Tidak ada kesan basa-basi dalam nada bicaranya. Pertanyaannya penuh dengan kecurigaan yang segera membuat Calvin merasa tak nyaman.

Calvin tersentak. Tubuhnya menegang, seperti seekor hewan kecil yang terjebak di sudut sempit.

"Aku… aku nggak tahu kenapa aku di sini," jawabnya, mencoba terdengar setenang mungkin. "Aku terbangun di sini, sama seperti Harry."

Namun, jawaban itu tidak tampaknya memuaskan Yasmin. Dia mengerutkan kening dan melirik Harry seolah menuntut penjelasan lebih lanjut.

"Kau yakin, Harry? Kau yakin dia nggak tahu apa-apa?." Yasmin menekankan setiap katanya, membuat suasana semakin tegang.

Harry tertawa canggung, lalu mencoba meraih tangan tunangannya. "Yasmin, santai, dia sahabatku. Calvin sama bingungnya seperti kita. Nggak ada yang aneh di sini."

Namun, Yasmin tampaknya tidak terpengaruh oleh penjelasan Harry. Matanya tidak pernah lepas dari Calvin. “Sahabat, ya?” gumamnya pelan, tapi suaranya begitu menusuk. Ada nada cemburu yang begitu jelas, meski dia berusaha menyamarkannya di balik sikap dingin.

Lihat selengkapnya