Langkah kaki Calvin terdengar pelan di atas jalan batu yang memantulkan cahaya samar dari langit dunia asing itu. Permukaan tanah berkilau tipis seperti serpihan kaca, membuat bayangan di sekitar mereka tampak bergerak tidak beraturan. Sejak bertemu Harry, perjalanan terasa sedikit lebih mudah dijalani. Setidaknya sekarang ia tidak lagi menghadapi tempat aneh ini sendirian. Meski begitu, rasa gelisah di dalam dirinya belum juga hilang.
Harry berjalan lebih dulu sambil sesekali menendang batu kecil di jalan.
"Kalau dipikir-pikir." Katanya santai.
"Tempat ini sebenarnya keren juga."
Calvin melirik sekilas. “Keren dari mana?”
"Tinggal kurang kopi sama wifi."
Calvin menghela napas kecil mendengar jawaban itu. "Kau masih sempat bercanda?"
"Kalau aku ikut panik, habislah kita!."
Ucapan Harry membuat Calvin terdiam. Ada benarnya juga. Namun tetap saja, dunia ini terasa terlalu ganjil. Terlalu sepi. Seolah ada sesuatu yang terus memperhatikan mereka dari kejauhan.
Angin dingin melintas di antara pepohonan berdaun perak. Bunyinya pelan, menyerupai bisikan yang tidak bisa dipahami. Calvin merapatkan kedua tangannya ke tubuh sendiri saat hawa dingin mulai terasa menusuk.
Mereka terus berjalan melewati dataran luas hingga akhirnya melihat Yasmin berdiri tidak jauh dari jalur batu yang mereka lewati. Perempuan itu tampak sudah menunggu cukup lama. Rambut panjangnya bergerak tertiup angin, sementara matanya langsung tertuju pada Calvin saat mereka mendekat.
Harry mengangkat tangan kecil. "Yas."
Yasmin tidak segera menjawab. Tatapannya masih tertahan pada Calvin seperti sebelumnya. Suasana di antara mereka kembali terasa canggung.
Harry berdeham pelan sebelum berkata. "Tadi kami nemu jalan lain. Tapi ujung-ujungnya balik lagi ke tempat yang sama."
"Aku juga ngalamin hal yang sama," jawab Yasmin singkat.
Calvin memilih diam. Entah kenapa, setiap kali Yasmin memandangnya, ia selalu merasa seperti seseorang yang seharusnya tidak berada di sini.
"Ada apa?" tanya Harry saat menyadari Yasmin terus memerhatikan Calvin.
"Aku cuma merasa ada yang berubah."
Calvin mengernyit kecil. "Berubah bagaimana?"
Yasmin tidak langsung menjawab. Ia justru mengalihkan pandangan ke arah langit sebelum berkata lirih, "Tempat ini terasa berbeda sejak dia muncul."
Harry langsung mendesah kasar. "Yas, jangan mulai lagi."
"Aku cuma bilang apa yang aku rasakan."
Nada suaranya memang tidak setajam sebelumnya, tetapi tetap membuat Calvin merasa tidak nyaman. Perasaan lama itu kembali muncul tanpa diminta—perasaan menjadi penyebab masalah bagi orang lain.
Harry tampak lelah menghadapi situasi tersebut. “Kita semua sama-sama bingung sekarang."