Malam mulai turun perlahan di dunia asing itu. Cahaya langit yang sebelumnya berwarna biru keemasan kini berubah menjadi kelabu pucat, menciptakan suasana sunyi yang terasa menyesakkan. Setelah kejadian aneh di hutan dan retakan langit yang hanya ia lihat sendiri, Calvin memilih menjauh dari Harry dan Yasmin untuk sementara waktu. Ia membutuhkan ketenangan, meskipun sebenarnya ketenangan adalah hal yang sudah lama tidak pernah benar-benar ia rasakan.
Langkahnya pelan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi batu-batu bercahaya samar. Udara dingin menyentuh kulitnya dengan lembut, namun tidak mampu meredakan sesak yang terus tumbuh di dalam dadanya. Kepalanya masih terasa berat sejak suara aneh itu kembali terdengar.
Bip…
Bip…
Bip…
Suara itu samar, namun cukup jelas untuk membuat Calvin merasa gelisah. Ia tidak tahu dari mana suara itu berasal. Kadang terdengar jauh, kadang terasa begitu dekat seolah ada tepat di samping telinganya. Calvin menghentikan langkahnya sejenak. Pandangannya menatap langit dunia itu yang kini dipenuhi bintang-bintang aneh berwarna putih kebiruan. Indah, tetapi juga terasa dingin dan kosong. Untuk pertama kalinya sejak tiba di tempat ini, Calvin merasa benar-benar lelah. Bukan karena perjalanan panjang atau ketakutan menghadapi dunia asing ini, melainkan karena dirinya sendiri.
Ia selalu seperti itu. Di mana pun berada, selalu merasa menjadi beban. Selalu merasa keberadaannya hanya membawa masalah bagi orang lain. Tatapan Yasmin tadi membuat luka lama yang selama ini ia pendam kembali terbuka. Dan yang paling menyakitkan, sebagian dari dirinya percaya bahwa Yasmin mungkin benar. Mungkin memang ada sesuatu yang salah dengannya. Angin malam berembus pelan melewati pepohonan tinggi yang daunnya berkilau seperti perak. Namun di tengah keheningan itu, Calvin kembali mendengar suara lain.
"Calvin…"
Tubuhnya langsung menegang. Ia menoleh cepat ke belakang, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Hanya jalan setapak panjang yang diselimuti kabut tipis. Calvin menelan ludah.
"Siapa?"
Ia memejamkan mata sebentar, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Mungkin ia hanya terlalu lelah. Dunia ini sudah cukup membuat pikirannya kacau tanpa perlu ditambah halusinasi aneh. Namun ketika Calvin kembali membuka matanya, ia tersentak kecil. Seseorang berdiri beberapa meter di depannya. Seorang perempuan. Rambut panjangnya jatuh lembut hingga melewati bahu. Pakaian putih yang dikenakannya bergerak pelan tertiup angin malam. Wajahnya terlihat tenang, dengan tatapan mata yang sulit dijelaskan—hangat, namun menyimpan kesedihan samar. Calvin mundur satu langkah refleks. Perempuan itu tidak bergerak. Ia hanya menatap Calvin dengan ekspresi lembut yang justru membuat jantung Calvin berdetak lebih cepat.
"Akhirnya aku menemukanmu."
Suara itu… Itulah suara yang tadi memanggil namanya.
"Kau siapa?" tanya Calvin hati-hati.
Perempuan itu tersenyum tipis. "Namaku Elena."
Calvin mengernyit pelan. Ada sesuatu dalam diri perempuan itu yang terasa aneh baginya. Bukan menakutkan, melainkan… familiar. Padahal ia yakin belum pernah bertemu Elena sebelumnya.
"Elena?." Ulang Calvin.
Perempuan itu mengangguk. "Aku sudah memperhatikanmu sejak tadi."
Kalimat itu seharusnya membuat Calvin waspada, tetapi anehnya tidak. Suara Elena terlalu lembut untuk terdengar mengancam.
"Aku nggak pernah melihatmu sebelumnya." Ujar Calvin.
"Itu wajar...kadang kita baru bertemu seseorang pada waktu yang memang seharusnya."
Kalimat itu terdengar aneh, tetapi Calvin terlalu lelah untuk memikirkannya.
Mereka terdiam beberapa saat. Angin kembali bertiup pelan di antara pepohonan bercahaya. Elena akhirnya berjalan mendekat, namun langkahnya begitu tenang hingga Calvin tidak merasa perlu mundur lagi.
"Kamu kelihatan lelah." katanya lirih.