Pukul sembilan malam telah lewat, namun lampu belajar di kamar Nadia masih menyala redup, memancarkan cahaya kuning keemasan yang lemah, seakan ikut merasakan beratnya beban yang dipikul gadis itu. Ruangan itu sunyi senyap, hanya terdengar suara detak jam dinding yang berirama pelan, menandakan berlalunya waktu yang tak terasa. Di sudut meja kayu yang sudah mulai kusam, tumpukan berkas skripsi menjulang tinggi—lembaran-lembaran kertas yang penuh tulisan, catatan, dan coretan, saksi bisu dari berbulan-bulan perjuangan, malam-malam yang tak terlelap, dan tetesan keringat yang tak pernah terlihat siapa pun.
Nadia duduk di kursinya, punggungnya tegak namun bahunya terlihat menahan beban yang tak kasat mata. Ia berusia dua puluh satu tahun, gadis berhijab yang wajahnya selalu tampak tenang, dingin, seakan tak ada satu pun hal di dunia ini yang mampu mengguncang hatinya. Ia pendiam, lembut dalam setiap gerak-geriknya, namun selalu menjaga jarak—bukan karena sombong, melainkan karena ia terbiasa menyimpan segala rasa di dalam dada. Ia tak pernah menampakkan siapa dirinya sepenuhnya; jika orang lain tak benar-benar ingin tahu, ia tak akan pernah menawarkan diri untuk dipahami. Itulah caranya bertahan, itulah tembok yang ia bangun perlahan demi perlahan agar rasa rindu dan sakit yang ia simpan tak meluap dan melukai siapa pun.
Matanya menatap layar laptop yang masih menyala, namun pandangannya kosong, tak benar-benar melihat barisan kata yang tertulis di sana. Jari-jemarinya terhenti di atas papan ketik, tak bergerak. Di kepalanya, satu kalimat berputar tanpa henti: Sebentar lagi semua ini selesai. Perjuanganku akan berakhir.
Tepat tujuh hari yang lalu, dunia Nadia seakan berhenti berputar. Sosok laki-laki yang paling dicintainya, yang selama tujuh belas tahun menjadi kerinduan terbesar di setiap sudut hatinya, yang ia jadikan satu-satunya semangat hidup yang tersisa—telah tiada. Papa telah pergi, untuk selamanya.
Nadia tumbuh besar bersama Ayah tirinya dan Mama. Ayah tiri itu begitu baik, begitu menyayanginya, memperlakukannya persis seperti anak kandungnya sendiri. Tak ada kekurangan kasih sayang, tak ada perlakuan yang membedakan. Namun betapapun besarnya cinta yang diberikan Ayah, ada sebuah ruang kosong di dalam dada Nadia yang tak pernah bisa terisi—sebuah kekosongan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tak bisa diobati dengan perhatian, tak bisa digantikan oleh siapa pun. Ruang itu milik Papa kandungnya sendiri. Hanya miliknya.
Tujuh belas tahun terpisah oleh takdir. Sejak masih balita, tangan Papa dilepaskan dari genggamannya. Nadia tumbuh tanpa wajah yang jelas, tanpa suara yang sering terdengar, tanpa kehadiran yang nyata. Namun kerinduan itu tak pernah pudar—ia justru tumbuh bersama Nadia, hidup di setiap detak jantungnya, menjadi bagian dari dirinya sendiri. Dan ketika akhirnya mereka bertemu, pertemuan pertama dan terakhir setelah tujuh belas tahun itu, Papa berpesan sesuatu yang hingga kini masih terngiang jelas di telinganya, seakan baru kemarin diucapkan:
"Nadia, ingatlah selalu. Tuhan lebih besar dari segala kekhawatiranmu. Di mana pun kamu berada, apa pun yang sedang kamu hadapi, Dia akan selalu bersamamu. Kamu tidak pernah sendirian."
Kata-kata itu menancap di hatinya, menjadi pegangan, menjadi cahaya di tengah gelapnya kerinduan. Namun sekarang, suara itu tak lagi bisa didengar. Wajah itu tak lagi bisa dipandang. Dan kamar yang temaram itu seakan ikut merasakan kesedihannya, menyelimuti Nadia dalam keheningan yang menyayat hati.
Bayangan masa depan yang pernah ia impikan kini terasa hancur lebur. Selama bertahun-tahun, ia membayangkan hari sidang skripsinya—hari di mana ia akan berdiri tegak, membawa buket bunga yang semerbak wanginya memenuhi ruangan, dan di sana, di antara orang-orang yang ia cintai, berdiri Papa dan Mama. Ia akan menyerahkan bunga itu kepada mereka, berkata dengan bangga: "Pa, Ma, Nadia selesai. Nadia sudah berjuang dan sampai di sini." Ia membayangkan senyum bangga di wajah Papa, pelukan hangat yang selama tujuh belas tahun ia rindukan, kata-kata yang akan diucapkan Papa untuknya.
Namun mimpi itu tak akan pernah menjadi kenyataan. Belum sempat ia mewujudkannya, Papa sudah pergi. Buket bunga itu tak lagi ada yang menerimanya. Dan di ruangan yang sunyi itu, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Satu tetes, lalu dua, lalu mengalir pelan di pipinya yang terasa dingin. Ia tidak menyeka air matanya. Ia membiarkannya jatuh, membiarkannya membasahi punggung tangannya yang terasa kasar karena sering memegang kertas dan pena.