Dunia Nadia - Bukan Salah Hari Ini

mahmudah romadhona
Chapter #2

Malam Tanpa Siapa-Siapa

Tahun baru telah tiba. Langit di luar sana penuh cahaya kembang api yang meletup mewarnai gelapnya malam, suara terompet dan tawa riuh rendah tetangga terdengar bergema dari kejauhan, menandakan pergantian waktu yang dirayakan banyak orang dengan sukacita. Namun di sudut kamarnya yang tenang, Nadia justru merasa sepi. Bukan sepi yang menyakitkan, melainkan sepi yang pelan-pelan menyusup ke sela-sela detak jantungnya, menemani langkah kakinya yang kini melangkah di jalan yang ia pilih sendiri.


Nadia kini berusia dua puluh dua tahun. Toga wisuda sudah ia pakai, ijazah sudah ia genggam erat, namun ia tidak melamar ke kantor-kantor seperti kebanyakan temannya. Nadia memilih jalan yang berbeda: menjadi penerjemah lepas. Setiap hari ia duduk di meja kerjanya, menatap layar, membaca barisan kalimat asing, lalu merangkainya kembali ke dalam bahasa yang indah dan mengalir. Ia melakukannya dengan hati yang penuh harap—harap agar pekerjaan ini bisa membanggakan hati Ayah dan Mama. Bukan hanya karena ia bisa menghasilkan uang sendiri, mengisi dompetnya tanpa harus selalu meminta, tapi karena lewat pekerjaan ini ia bisa menciptakan karya yang bermanfaat. Ia ingat selalu pesan orang tuanya: orang yang bermanfaat akan selalu dapat diandalkan, di mana pun tempatnya berada. Itulah yang ia pegang teguh.


Bagi Nadia, menerjemahkan bukan sekadar memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Baginya, ia sedang membangun jembatan. Jembatan yang menghubungkan karya-karya indah dari negeri jauh dengan orang-orang di sekitarnya yang tak memahami bahasa asing. Ia ingin cerita, ilmu, dan keindahan yang ada di luar sana bisa sampai juga ke hati mereka. Setiap kali ia mulai menerjemahkan, ia selalu mendahulukan niat baiknya—agar setiap kata yang ia tulis membawa manfaat, kebaikan, dan cahaya bagi siapa pun yang membacanya. Ia begitu mencintai pekerjaannya. Namun ia juga tahu, tidak semua orang melihatnya dengan cara yang sama. Di setiap pilihan yang diambil, selalu ada gelombang yang datang menerpa. Dan malam itu, di tengah riuh perayaan tahun baru, gelombang itu datang.


"Kamu terlalu idealis ya, Na," suara Tante terdengar tegas, memotong obrolan di ruang tamu. "Dari dulu sudah dibilangin, cari kerja itu yang pasti-pasti aja. Yang jelas ada gaji tiap bulan, ada jaminan, ada masa depan."


Nadia hanya menunduk sedikit, terdiam. Ia menatap ujung karpet yang terhampar di lantai, mendengarkan tanpa membalas.


"Cari cuan itu yang pasti-pasti aja, Nadia," tambah Tante lagi, suaranya terdengar seakan ia yang paling benar. "Kerja kantoran atau apa gitu kek. Coba dulu ikutin saran Tante, bikin usaha, atau dengerin Om-mu yang ngajakin kamu magang di kantornya. Pasti uangmu sekarang udah banyak. Iya kan? Kemungkinan gitu."


Nadia mengangkat wajah perlahan, mencoba tersenyum—senyum yang sopan, senyum yang ia latih berulang kali di depan cermin, walau di dalam hatinya tak ada satu pun bagian yang merasa tenang. "Iya, Tante. Terimakasih sarannya. Tapi dengan ini, Nadia cukup kok."


Tante menggeleng-gelengkan kepala seakan tak puas. "Ingat aja, tanggung jawabmu udah semakin kompleks. Jadi ya ikutin saran Tante yang baik buat kamu ini. Habis ini Nadia kan udah harus di fase yang compact, berdiri sendiri. Jadi ya gitu deh, masa nggak paham sih, Nadia?"


"Iya, Tante. Terimakasih," jawab Nadia pelan, senyumnya masih terpasang, namun dadanya mulai terasa sempit.

Lihat selengkapnya