Dunia Nadia - Bukan Salah Hari Ini

mahmudah romadhona
Chapter #3

Gerimis di Bulan Januari

Pagi itu, Nadia membuka mata perlahan. Udara pagi yang sejuk menyelinap masuk dari celah jendela yang sedikit terbuka, menyentuh pipinya yang masih terasa dingin. Hal pertama yang ia lihat adalah buku yang masih tergeletak rapi di samping bantalnya—buku tentang kota dingin Bergen di Norwegia, yang sedang ia pindahkan ke bahasa ibunya dengan penuh kasih, merangkai setiap kata agar terasa hidup dan mengalir, seolah pembaca pun bisa ikut berdiri di jalanan kota itu sendiri. Ia tersenyum tipis, jari-jemarinya menyentuh sampul buku itu pelan. Semalam, saat perkataan orang lain terasa begitu perih menelan kerongkongannya, inilah yang menjadi pelindung hatinya: membayangkan kota Bergen yang dingin, tenang, jauh dari segala keributan. Dan ternyata cukup. Setidaknya, tidurnya nyenyak semalaman. Itu sudah cukup baik.


Ia bangkit dari tempat tidur, merapikan selimutnya dengan rapi—kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan sejak lama, seakan keteraturan di luar bisa menenangkan kegelisahan di dalam. Setelah itu ia melangkah ke kamar mandi dalam, membasuh wajahnya dengan air dingin yang menyegarkan, membangunkan setiap inci tubuhnya untuk siap menjalani hari. Pagi ini ternyata cerah. Sinar matahari menembus langit yang masih sedikit kelabu, memantul di lantai kayu kamar, menari-nari bersama butiran debu yang melayang pelan di udara hangat. Suara burung berkicau di luar jendela terdengar jernih dan menenangkan, menggantikan suara bising petasan dan terompet yang semalam masih bergema di telinga. Hati Nadia yang tadi pagi masih terasa berat, sedikit enggan untuk melangkah keluar dan bertemu orang-orang di luar kamarnya, perlahan mulai melunak. Namun saat ia mendengar suara piring yang berbenturan pelan dari arah dapur, ia tak mau tinggal diam. Ia tidak membiarkan Mama bekerja sendirian di hari yang baru. Ia harus membantu. Ia ingin menemani Mama pagi ini, membersihkan rumah bersama-sama.


Tapi saat ia melangkah keluar kamar, menyusuri lorong menuju ruang tengah, ia melihat semuanya sudah hampir rapi. Bekas camilan, kemasan-kemasan kecil, barang-barang yang berantakan semalam sudah hilang, seakan tidak pernah ada. Nadia berjalan cepat menuju dapur, ingin segera menyusul Mama dan membantu sisa pekerjaan yang ada.


"Mama..." panggilnya pelan. "Tante dan yang lain mana? Sudah pada pulang ya?"


Mama menoleh, menatap putri sulungnya dengan senyum lembut yang selalu meneduhkan hati. "Iya, Nak. Mereka bawa camilan ke asrama adikmu. Semuanya sudah berangkat." Mama terkekeh pelan, seakan paham betul apa yang sedang Nadia rasakan, seakan ia tahu betapa beratnya hati putrinya semalam. "Semuanya baik-baik saja, Kakak. Tenanglah, tidak usah dipikirkan. Tantemu memang sedikit beda orangnya. Bukan berarti apa yang dikatakannya benar sepenuhnya."


Nadia menghela napas panjang, menunduk pelan. "Iya Ma. Gimana ya... mungkin tante punya pendapat lain, tapi menurut Nadia, semuanya tidak bisa disamakan dengan pendapatnya begitu," suaranya terdengar lirih, dan dadanya kembali terasa sesak sejenak, seakan perkataan semalam kembali berputar di kepalanya.


Mama berjalan mendekat, lalu menepuk pundaknya pelan dengan penuh kasih sayang. "Sudah... Mama yang tahu kamu. Yang penting fokus pada apa yang kamu lakukan, selama itu baik dan benar di mata Tuhan. Bukannya begitu?"


Kata-kata itu begitu sederhana, namun langsung menembus ke dalam hati Nadia yang paling dalam. Ia menatap Mama, matanya mulai berkaca-kaca, hampir meneteskan air mata karena terharu. "Terima kasih sudah percaya sama Nadia ya, Ma..."


"Sudah, sarapan dulu. Nasi gorengnya sudah matang, keburu dingin," ucap Mama lembut, mengalihkan perasaannya dengan hangat. Mama memang selalu begitu. Ia tidak perlu banyak bicara untuk membenarkan putrinya. Cukup dengan satu kalimat, satu tatapan, Nadia sudah kembali merasa kuat. Selama apa yang ia lakukan itu baik, maka ia harus terus melangkah ke depan. Selalu.


Setelah selesai makan, Nadia buru-buru membereskan piring dan gelasnya, mencucinya hingga bersih—rutinitas yang selalu ia lakukan. Saat hendak kembali ke kamar, ia menyapa Mama yang sedang merapikan tanaman hias di pot dekat jendela dapur. "Mama, Nadia balik ke kamar ya."


"Iya, Nak. Semangat ya," jawab Mama tanpa menoleh, namun nadia tahu senyum itu masih terpasang di wajahnya.


Hatinya tenang saat melangkah kembali ke kamarnya. Ia duduk di depan meja kerja, membuka laptop perlahan, bersiap membuka surel yang masuk entah dari siapa. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya—perasaan berdebar yang asing namun menyenangkan. Ia mengklik pesan itu. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris kalimat yang tertulis di layar:

Halo Nadia,

Lihat selengkapnya