"Burung merpati, terbang tinggi...
Ikut mandi, bersama Mbok Sri...
Selamat pagi, Oh Takanashi...
PR Biologi, Apakah selesai...?"
Menyapa dengan pantun pas-pasannya, murid paling biasa di SMA 1000 Jakarta kelas 10-A, Budi Hartono muncul dengan senyum mengembang. Berjalan pelan mendekatiku setelah meletakkan tasnya di bangku depan.
Jam menunjukkan pukul 06:20. Murid-murid yang baru saja datang berdesakkan masuk kelas. Meletakkan ransel di kursi. Mengeluarkan alat tulis sebagai persiapan. Mengobrol santai.
Jendela kelas menghadap langsung ke timur tempat matahari terbit dari ufuk. Awan terlihat menawan bagai kapas mengambang. Perkotaan Jakarta yang penuh dengan beton memenuhi pandangan sejauh mata melihat. Halaman berumput yang bentuknya adalah kata-kata disesaki puluhan siswa. Berlarian menebar tawa.
Sepuluh menit sebelum bel berdentang masuk.
Aku yang sudah datang lebih awal daripada kawanku itu sedikit tertawa mendengar puisi barusan, membalas sambil menyangga wajah dengan telapak tangan.
"Burung elang, melanggang buana.
Mengambang tinggi, dibalik mentari.
Salah orang, kau bertanya.
PR ini, haram dibagi."
Mendengar hal itu Budi Hartono yang sudah membawa PR biologi dari pak Einstein langsung merosot bahunya. Kecewa berat. Tiba-tiba berlutut rendah, menarik tangan kananku, menciumnya dengan khidmat dan putus asa. Berkata dengan mata ketakutan.
"Takanashi-kun... Hiks... Hiks... Kau ini jahat sekali ya...? Pa... --padahal kita sudah selalu bersama setiap hari..."
Aku membuang wajah sembarang. Memerhatikan seorang gadis super cantik yang baru saja datang. Menyipitkan mata sinis.
Membalas,
"Kebersamaan bukanlah alasan untuk menolak peraturan."
Lalu mengangkat telunjuk kanan, memberikan isyarat kepada Budi Hartono untuk menghampiri gadis yang kesehariannya selalu saja santai, datang tepat satu menit sebelum kelas dimulai, hanya membawa ransel kecil putih berisi satu buku 42 halaman kosong dan sepucuk pena, kemudian aku mengangkat bahu tidak peduli, membuka tas, mengeluarkan buku.
Berkata,
"fondasi argumen, adalah premis.
hasil akhir, adalah resultan.
Jika kau ingin mengemis.
Datangi saja gadis bajingan."
Meski posisi duduknya relatif agak jauh. Berada di pojok sebelah kiri kelas, gadis yang kusindir melalui rima langsung membuka indahnya mata.
Tatapannya tajam meski agak mengantuk untuk seorang pelajar SMA. Pakaian yang tidak rapi dengan dua kancing kemeja dilepas membuatnya tampak seperti siswi nakal. Ditambah rok yang diangkat sedikit terlalu keatas. Menciptakan suatu aura yang berbeda dari gadis-gadis umumnya di kelas. Lebih berani, lebih leluasa.
Dan tentu saja, ia berkuasa.
Karena ia adalah salah satu pendekar sastra SMA 1000 jakarta.
"Pagi yang indah, pangeran murka.
Soal PR saja, hatinya sempit.
Jika tidak mau, biar 'Ratu' saja.
Pangeran pelit, temannya pasti sedikit."
Mendengar pantun yang indah itu Budi Hartono langsung putar kiblat. Berpindah tempat melalui langkah buru-buru, minta diberikan PR biologi dari sang Ratu yang baru saja datang. Mengeluarkan jurus dari negeri Konoha, 'wajah super melas'.
"Tolonglah hamba, wahai paduka ratu...! Huhuhu...~ Jika engkau juga berpaling, kemana lagi hamba akan mengharap...??"
Membuka percakapan dengan Sang Ratu Kemalasan, Budi Hartono secara ajaib terlihat seperti menangis dalam sekejap layaknya artis Indosiar. Padahal, yang terjadi sesungguhnya adalah ia mengambil minyak pijat yang panas di saku, menuangkannya di tangan, lantas dengannya ia mengucek-ngucek mata hingga berair. Menangis haru layaknya Oppa-Oppa Drakor.
Gadis bernama Erin Jovana yang ada di hadapannya hanya mengangguk sekilas. Menerima penghormatan dengan rendah hati. Tersenyum simpul bak malaikat. Menyanggupi permintaan, menawarkan kontrak.
"Dengan kemurahan ratu, permintaan rakyat diterima..."
Kemudian menyeringai licik.
"... Tapi pajak lima ribu, jangan sampai lupa, ya?"