Dunia Sastra

Ariaria
Chapter #3

Kekuatan Sang Ratu

Setelah kukalahkan dengan pantun modern ala anak gaul Jakarta, Erin Jovanna tampak murung di pelajaran pertama dan kedua. Bukannya memerhatikan pelajaran Biologi dan Matematika yang sedang berlangsung, gadis yang penampilannya selalu acak-acakan namun jelita itu malah menatapku dengan melas dan mengiba. Meminta supaya mengembalikan uang lima puluh ribunya melalui sandi morse kedipan mata. Membuatku bertanya-tanya mengapa gadis seperti ini masih bisa saja menyaingiku di peringkat sekolah. Selalu berselisih nilai 0,01 yang begitu ketat. 

Padahal, seperti yang kalian lihat, gadis bajingan ini tidak niat sekolah sama sekali.

Apakah dia menggunakan ilmu hitam atau semacamnya?

"Kembalikan sekarang, atau kau akan menyesal." Ratu bahasa mengancam melalui sandi morse-nya yang cepat dan refleks.

Aku tentu saja tidak mau mengalah. Menggunakan bahasa isyarat tangan untuk membalas yang isinya,

"Ah, lihat. Ada monyet betina minta pisang."

Tertawa dalam hati, aku menyipitkan mata.

Selamanya logika tidak akan tunduk pada bahasa, bodoh.

Kedua bola mata Erin membesar demi menerima balasan tersebut. Bahunya gemetar. Kedua tangannya mengepal. Tubuhnya bangkit dari kursi bangku. Membuat semua orang menoleh. Sementara wajahnya merah dan hangat.

Aku sebenarnya tidak peduli dengan apa yang hendak dilakukan oleh gadis itu, berharap Pak Pitagores di depan segera bertindak, memarahi Erin terang-terangan di hadapan semua orang. Membuatnya tambah malu karena tidak mematuhi peraturan. Kembali ke bangkunya lagi untuk menyesali perbuatan. Mengakui kekalahannya padaku.

"Gadis jelita, seragamnya tak beraturan.

Macam tak dididik, akhlak pun tiada.

Erin Jovanna, sekarang pelajaran.

Mau keluar ruangan, atau berdiri saja?"

Akhirnya, begitu menyadari bahwa dirinya hanya menjadi figuran disamping sosok bidadari yang mencuri perhatian, Pak Pitagores yang wajahnya segitiga dan rambutnya gondrong itu melantunkan pantunnya, hendak menertibkan Erin yang berjalan tertatih-tatih padaku layaknya zombi pejabat: haus duit. Memberi pilihan antara keluar kelas sekarang juga atau mencatat pelajaran sambil berdiri. Sementara aku, masih tenang saja di bangku sebelah kiri. Mengabaikan sang Ratu Bahasa yang mendekat. Hanya berjarak tiga langkah. Bersenandung dalam hati.

Alih-alih menuruti guru, Erin yang dari sononya memang membangkang seolah baru saja puber membalas. 

"Wajah segitiga, rambutnya subur.

Pantunnya kacau, tak paham bahasa.

Rakyat jelata jangan ikut campur.

Raja dan Ratu, sedang bersengketa!!"

Kemudian dengan satu raungan keras mendirikan kuda-kuda Taekwondo Bal Seogi yang sering digunakan dalam turnamen kelas atas, melepas tendangan lurus dari atas kebawah Naeryo Chagi yang konon jika sekali kena di dalam pertempuran, sudah bisa dipastikan lawannya akan kalah telak.

Demi melihat gelagat mencurigakan mengundang maut itu jangtungku berdegup kencang. Nafasku menderu. Pupil mataku mengecil. Sambil bangkit dari bangku yang terlalu sempit untuk menghindar, aku memasang posisi siaga. Melihat dengan cermat kaki kanan ramping yang sedang meluncur sekuat tenaga. Menarik nafas dalam-dalam. Menggunakan teknik pernafasan Ibuki dalam seni beladiri karate yang mampu memperkuat fisik. Kemudian menangkap tendangan maut bidadari jelita di depan sebelum menghantam meja hingga patah.

DHUAR!!

Dentuman tendangan gadis abnormal berhasil ditangkis. Angin ribut di kelas terbang ke segala arah. Menciptakan gempa empat skala ritchter. Melemparkan beberapa alat tulis ke sembarang tempat. Murid-murid berdiri ketakutan. Pak Pitagores mengambil sapu sebagai alat senjata untuk menertibkan Ratu Bahasa yang kehilangan segel kyubi-nya.

Aku berseru tertahan.

Lihat selengkapnya