Desember 1998
Dor! Dor! Dor!
Bunyi tembakan berulang kali terdengar nyaring. Daniel berlari menggendong anak gadisnya—Aanchi—menuju lantai atas. Dari kejauhan gadis kecil itu dapat melihat Erika, Mamanya terjatuh ke lantai dengan tubuh bersimbah darah.
Perempuan yang paling berarti dalam hidupnya itu tertembak tepat di bagian dada. selanjutnya, masih bisa dilihatnya beberapa orang itu menyeret tubuh Mamanya dan mulai mengoyak pakaiannya serta menindih tubuh yang perlahan kaku itu.
Peluh Daniel membanjiri wajah, tergesa Ia membuka pintu kamar lalu memasukkan tubuh kecil Aanchi dalam lemari.
"Apapun yang terjadi tetap diam di sini, jangan bersuara. Papa menyayangimu." Diciumnya puncak kepala dan wajah anaknya berkali-kali dengan deraian air mata. Ditatapnya lama mata kecil itu sebelum akhirnya menutup pintu lemari dan meninggalkan gadis itu sendiri.
Aanchi memeluk lutut di dalam lemari, badannya gemetar karena takut. Mendadak dia mendengar suara orang berkelahi, nyaring sekali, pertarungan yang tiada henti, suaranya bising menyesaki telinga. Teriakan dan caci maki terus menerus menganggu pendengarannya.
Gubrak!
Tubuh Daniel terjatuh tepat di depan lemari. Lelaki itu membuka pintu lemari perlahan, lalu memberi isyarat pada anaknya supaya tetap diam.
“Papa!” jerit Aanchi seketika.
“Di atas!” Teriak beberapa orang, kemudian cepat Aanchi mendengar suara-suara langkah tergesa menapakai tangga menuju lantai tempat dia dan papanya sekarang berada.
Daniel menyadari kesalahan yang telah diperbuat anaknya, akan tetapi dia tak bisa lagi berbuat apa-apa, yang dia bisa lakukan sekarang adalah memutar otak, bagaimana caranya supaya darah dagingnya ini dapat selamat dari malapetaka yang tengah terjadi.
Daniel memeluk erat Aanchi, kemudian berbisik di telinganya, “Jangan takut, Sayang. Papa akan selamatkanmu dari sini. Jangan berisik, jangan bersuara, nanti kita ketahuan sama mereka.”
“Me—mereka, siapa, Pa? Kenapa mereka jahat sama kita? Kenapa Mama dibunuh?” tanya Aanchi panik.
Daniel mencium pipi istrinya dengan berurai air mata.
“Papa juga gak tau, Sayang. Terpenting, sekarang kita harus segera pergi dari sini.”
Dengan sisa tenaga, dengan tergesa Daniel menggendong putri semata wayangnya menuju balkon rumah.
Aanchi ingin sekali menjerit minta tolong atau apalah karena takut. Akan tetapi dia terpaksa menuruti kemauan Papanya untuk tetap diam dan jangan bersuara. Lengan kekar itu sudah bercucuran darah. Digendongnya tubuh kecil anaknya dengan sisa tenaga yang ada menuju balkon rumah. Sekilas tadi dia melihat Romi—adiknya—seperti tengah menunggu di luar rumah. Itu seberkas harapan untuk bisa menyelamatkan putri semata wayangnya.
Sesampainya di teras luar lantai dua, Daniel menjerit memanggil nama seseorang.
"Romiiiii!!" teriaknya.