Awal Pertemuan.
Palembang, Desember 1998.
Apa yang tengah berlaku di negeri ini? Huru-hara di mana-mana, banyak memakan korban jiwa, darah tertumpah di tanah persada, semurah itukah harga sebuah nyawa.
Di mulai sejak Mei kemarin, mahasiswa berdemo menuntut Presiden Soeharto untuk mundur dari jabatan, bentrok tak terhindarkan dengan aparat sehingga menimbulkan kerugian harta bahkan nyawa.
Krisis ekonomi melanda negeri, berawal dari jatuh-nya nilai mata uang Thailand terhadap Dollar Amerika, yang kemudian berkembang menjadi krisis moneter global di Asia. Penjarahan tak terelakkan lagi, bahkan di sinyalir terjadi juga pemerkosaan massal terhadap suatu etnis, entahlah, yang pasti negeri ini tengah berduka.
Puncaknya, tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto dengan legowo mengundurkan diri dari jabatan yang baru saja ia duduki kembali, dan digantikan oleh wakilnya Bapak BJ. Habibie, sekarang di bulan ini pun kerusuhan belum juga mereda. Kestabilan harga-harga masih belum tercapai, sementara nilai tukar Dollar masih juga tinggi, di atas sepuluh ribu.
‘Huft.’ Lelaki berseragam putih abu-abu itu menghela napas. Dia bernama Ridwan, siswa kelas satu STM itu begitu tergila-gila dengan yang namanya berita, hampir setiap pagi takkan pernah dilaluinya tanpa membaca surat kabar, bahkan, Purnomo--bocah penjaja Koran langganan itu tau bahwa setiap pagi Ridwan pasti menunggu dan mencarinya di depan gerbang sekolah.
“Purnomo, sini …,” panggilnya, bocah itu segera berlari menyeberangi jalan menghampiri lelaki yang baru saja sampai di gerbang sekolah STM Negeri 1 Kota Palembang serta baru saja turun dari opelet merah jurusan pal lima itu.
“Seperti biasa, Bang?” tanyanya sambil menyulurkan koran hari ini yang masih terlipat rapi.
Ridwan mengangguk dan tersenyum sambil memberikan selembar uang padanya. “Eh, ada berita hangat apa hari ini?” tanyanya sambil mencoba mencari tau dari headline yang tercetak besar di muka koran.
“Ada aktivis yang berasal dari warga keturunan dibantai sekeluarga malam tadi, Bang.” Bocah tamatan sekolah dasar itu memberitahu Ridwan isi dari koran yang dijualnya.
“Wah, karena apa ya?” tanya Ridwan antusias.
“Belum ditemukan sebab dan motifnya, Bang,” ulasnya.
“O, ya sudah, kalo nanti kau sudah tau, telpon Abang ya,” kata lelaki itu mengulum senyum.
“Yah, Bang Ridwan. Mau ngelawak ya? Kalo iya saya bisa mengungkap kasusnya, gak bakal jualan koran Saya, Bang.”
“Oya, jadi apa, kau?”
“Jadi Detektif,” kata bocah penjaja Koran itu sambil memperagakan sebuah gaya seakan-akan tengah mengawasi sambil tangannya membentuk sebuah pistol.
“Gayanya, Kau Pur, Pur. Sekolah lagilah, Kau, biar cita-citamu kesampaian,” ujar Ridwan mencoba memberinya semangat.
“Siap, Bang Ridwan. Doakan aku bisa punya biaya, biar tahun depan bisa nyambung sekolah,” katanya tulus.
“Aamiin ....” Ridwan menjawab doa Purnomo tulus memohon kepada Yang Kuasa.
Mereka pun akhirnya berpisah, Ridwan harus segera masuk sekolah, karena kelas sebentar lagi akan dimulai, sementara Purnomo pun harus menjajakan dagangannya kembali.
Ridwan menetap gerbang sekolahnya terlebih dahulu, kemudian menarik napas berat. Ini sebenarnya bukan sekolah pilihannya, akan tetapi karena kondisi zaman yang sedang kacau dan dia tak tahu setelah ini apakah bisa melanjutkan sekolah atau tidak, hingga akhirnya pria muda itu lebih memilih untuk bersekolah di kejuruan.
Karena, jika sekolah di kejuruan setidaknya nanti dia sudah mempunyai kemampuan sebagai bekal untuk hidupnya, meskipun dia bercita-cita untuk menjadi seorang wartawan ketimbang punya bengkel.
‘Semoga cita-cita itu bisa tercapai,’ bisik bathinnya saat sampai di pintu kelas.
]]]
Jakarta. Sebelas tahun kemudian.
Lelaki itu masih Ridwan yang dulu, penuh semangat yang menggebu, ketertarikan yang hakiki terhadap berita telah mengantarkan dia menjadi seorang wartawan di sebuah Koran Nasional berlogo Rajawali dengan latar biru langit.