Hari-hari setelah transaksi pertama berjalan cepat dan berlanjut dengan transaksi-transaksi yang lainnya.
Terlalu cepat untuk kusebut wajar.
Stok yang kubeli bahkan habis dalam hitungan jam. Notifikasi berdenting tanpa jeda. Tanganku sibuk memindahkan barang dari kardus ke meja, dari meja ke plastik, dari plastik ke tumpukan pesanan. Rumah berubah jadi gudang kecil, dan aku membiarkannya.
Aku merasa… hidup.
Perasaan itu jarang datang akhir-akhir ini.
Aku lupa makan.
Aku lupa mandi.
Aku lupa bahwa tubuhku sedang menyimpan rahasia yang belum kuceritakan pada siapa pun.
Saat sore datang, lantai masih penuh sisa kardus. Gunting tergeletak di mana-mana. Bau lakban bercampur keringat memenuhi ruangan. Aku berniat membereskan semuanya setelah istirahat sebentar.
hanya sebentar.
Tidak sadar, Aku sudah tertidur di sofa.
Suara motor itu membangunkanku.
CBR oranye. Aku hafal betul suara khas motor suamiku.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawabku sambil setengah duduk.
Aku belum sempat berdiri ketika suamiku sudah masuk. Pandangannya langsung menyapu seisi rumah. Wajahnya berubah. Aku tahu tatapan tajam itu, tatapan yang tidak membutuhkan penjelasan.
“Ini apa-apaan?!”