DUNIA TIPU-TIPU

ARINDA NOVALITA
Chapter #7

BAB 7 - BERUBAH

Waktu itu hidupku sedang berada di titik yang aneh.

Orderan ramai. Uang berputar cepat. Rumah terasa lebih sibuk dari biasanya.

Karena aku kewalahan mengurus bayi dan pesanan yang terus berdatangan, suamiku akhirnya berhenti bekerja. Kami sepakat fokus pada bisnis yang sedang naik ini.

Keputusan yang terdengar berani. Padahal di baliknya ada cicilan mobil yang masih berjalan, biaya hidup di Ibu Kota yang tidak pernah murah, dan tabungan yang sebenarnya tidak ada.

Aku merasa sedang bertaruh. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa punya kesempatan menang.

Di antara banyaknya pembeli yang ikut masuk, ada dua orang yang paling kuingat, Sassa dan Wilona, mereka dari dua kota yang berjauhan.

Sassa lebih muda dariku. Geraknya cepat, berani ambil stok banyak. Ia pernah beberapa kali transaksi langsung denganku. Bahkan aku pernah datang sendiri ke rumahnya untuk memastikan barang.

Wilona berbeda. Lebih dewasa. Lebih tenang. Ia selalu COD ke rumahku. Duduk di ruang tamu, menghitung barang bersama, memastikan semuanya jelas.

Mereka percaya padaku bukan tanpa alasan. Selama ini aku tidak pernah bermasalah.

“Kalau lewat lo, gue berani, Al,” kata Sassa waktu itu.

Wilona juga pernah bilang, “Kalau bukan kamu yang pegang, aku nggak ikut.”

Kalimat-kalimat itu dulu membuatku bangga. Sekarang… justru itu yang paling menekan.

Perubahan itu tidak datang tiba-tiba. Ia merayap pelan, seperti retakan kecil di dinding rumah yang awalnya tak terlihat, sampai suatu hari aku sadar, retakan itu sudah membelah semuanya.

Awalnya hanya keterlambatan. Sehari, dua hari, lalu seminggu.

Ayana masih membalas pesanku. Masih ramah, masih memakai emotikon. Masih memanggilku “Kak” dengan nada yang sama.

"Kak maaf ya, barangnya belum turun 😭

Supplier lagi ribet.

Besok aku kejarin lagi.

Sumpah, Kak, aku nggak enak banget."

Aku membaca pesan-pesan itu sambil mengangguk sendiri.

“Yaudah,” gumamku.

“Mungkin memang lagi susah stocknya karena memang menjelang ramadhan saat itu.”

Namun, di balik layar ponselku, kenyataan mulai berbeda. Pesan dari pembeli menumpuk. Dan pesan dari parterku yang belum juga ku balas.

"Kak, barangnya kapan dikirim?"

"Udah seminggu belum update."

"Kalau nggak ada kabar, aku minta refund aja, ya."

Dadaku mulai sesak. Aku membalas satu per satu dengan tangan gemetar.

Lihat selengkapnya