Malam itu rasanya belum usai. Kami memang pulang, tapi pikiranku tertinggal di Jalan Mawar, di depan pagar itu, di bawah lampu yang redup, tempat di mana semuanya akhirnya terasa begitu jelas dan tidak bisa lagi kubantah.
Aku tidak tidur. Bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak berani. Aku takut memejamkan mata dan harus bangun di kenyataan yang sama, seolah dengan tetap terjaga aku bisa menunda semuanya, meski hanya sedikit.
Ponselku terus berbunyi tanpa henti. Pesan masuk bertumpuk dari pembeli, dari Sassa, dari Wilona. Aku melihat layar itu berkali-kali, tapi tidak langsung membukanya. Tanganku seperti menolak. Aku hanya duduk di lantai kamar, bersandar pada sisi ranjang, memeluk lutut sendiri, mencoba menahan sesuatu yang rasanya terus naik dari dada ke tenggorokan.
Dean duduk di sampingku. Ia tidak banyak bicara. Kami sama-sama diam, seperti dua orang yang tahu segalanya sudah berubah, tapi belum siap mengakuinya dengan suara.
“Berapa totalnya?” tanyanya akhirnya, pelan.
Pertanyaan itu terasa seperti dorongan yang memaksaku membuka sesuatu yang selama ini kutahan. Aku meraih ponsel, membuka catatan, dan mulai menghitung satu per satu. Transfer yang masuk, pesanan yang belum terpenuhi, barang yang datang sebagian, bahkan yang sama sekali tidak datang.
Angkanya terus bertambah, dan setiap angka terasa seperti menambah beban di dadaku. Aku berhenti di tengah, napasku mulai tidak teratur.
“Lanjutin,” katanya pelan, tanpa menoleh.
Aku menelan ludah dan memaksa diriku melanjutkan sampai selesai. Tapi ketika angka itu benar-benar sudah utuh di depanku, aku tidak sanggup mengucapkannya.
“Berapa?” tanyanya lagi.
Aku hanya menggeleng. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Dean mengambil ponsel dari tanganku, membaca sendiri.
“Rp158.000.000.”
Aku memperhatikan wajahnya yang perlahan berubah, tapi ia tidak marah. Ia hanya terdiam beberapa saat, lalu menghembuskan napas panjang.
“Kita tanggung, ya,” katanya.
Aku langsung menoleh. “Kita?” suaraku hampir tidak terdengar.
“Iya. Kita.”
Tangisku pecah lagi, lebih dalam dari sebelumnya. “Gimana caranya?” tanyaku lirih, hampir putus asa.