Pagi itu datang tanpa terasa seperti pagi.
Aku bangun dengan kepala berat dan mata yang perih, seperti belum tidur sama sekali meskipun tubuhku sempat terbaring beberapa jam. Rumah tetap berjalan seperti biasa, anakku bangun, meminta makan, menangis sebentar karena hal kecil hingga membuat aku tetap bergerak seolah semuanya normal, padahal tidak ada satu pun yang terasa normal di dalam diriku.
Dean sudah lebih dulu bangun. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali menatapku, seperti memastikan aku masih cukup kuat untuk menjalani hari.
“Aku ke luar sebentar,” katanya akhirnya.
Aku menoleh pelan. “Mau ke mana?”
“Cari angin… cari jalan keluar,” jawabnya singkat.
Aku mengangguk. Kami tidak punya pilihan selain bergerak.
Setelah ia pergi, aku duduk di ruang tengah dengan ponsel di tangan. Aku membuka kembali seluruh percakapanku dengan Ayana dari awal, bukan untuk mengenang, tapi untuk mencari sesuatu apa pun itu yang mungkin selama ini terlewat. Aku membaca ulang pesan demi pesan, memperhatikan detail yang dulu terasa biasa saja seperti nomor rekening, cara dia berbicara, waktu-waktu dia membalas, foto-foto barang yang pernah ia kirim. Semuanya kini terasa seperti potongan kecil dari teka-teki yang harus kususun, meskipun aku tidak tahu bentuk akhirnya seperti apa.
Aku mencoba menghubunginya lagi. Mengirim pesan dan menelepon berkali-kali. Tentu saja tidak ada balasan. Beberapa saat kemudian, ponselnya bahkan tidak lagi aktif.
Aku mencoba nomor Leo, dengan harapan kecil yang bahkan aku sendiri tidak yakin.
Hasilnya sama.
Seolah mereka menghilang tanpa jejak.
Namun aku tidak ingin berhenti di situ. Aku mulai mencari nama yang tertera di rekening yang pernah kugunakan untuk mentransfer uang atas nama Leo, mencoba mencarinya di internet, di media sosial, di mana pun yang terpikir. Tidak ada. Nama itu seperti tidak pernah ada di mana pun.
Lalu tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Sebelum Leo datang bersama Ayana, ia selalu datang bersama Lexa. Sebelum akhirnya Leo bilang mereka sudah tidak bekerja sama lagi, seolah menjadi “saingan bisnis”.
Aku langsung mencari nomor Lexa di ponselku.
Kutelepon.
Tidak diangkat.
Kucoba lagi.
Masih sama.
Aku terdiam beberapa detik, lalu terlintas satu cara. Aku menggunakan nomor pribadiku, nomor yang hanya diketahui orang-orang terdekat.