Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat dan lebih berat dari biasanya. Setiap aktivitas yang kulakukan terasa seperti berjalan di atas sesuatu yang rapuh, seolah kapan saja aku bisa jatuh kalau berhenti terlalu lama.
Ponselku tidak pernah diam. Pesan dari pembeli terus masuk, sebagian mulai menuntut, sebagian lainnya hanya bertanya dengan nada yang mulai berubah. Sassa dan Wilona juga terus menghubungiku, tidak lagi hanya menanyakan kabar, tapi menunggu kepastian yang bahkan aku sendiri belum punya.
Aku mencoba membalas satu per satu, menjaga kata-kataku tetap tenang, tetap terlihat seolah semuanya masih bisa dikendalikan. Padahal setiap balasan terasa seperti kebohongan kecil yang terpaksa kulakukan untuk menunda kepanikan yang lebih besar.
Aku tidak berhenti mencoba menghubungi Ayana dan Leo. Pesan kukirim berkali-kali, dengan nada yang berubah dari meminta, menjadi menekan, lalu perlahan berubah lagi menjadi putus asa. Tidak ada balasan. Bahkan centang dua pun tidak lagi muncul. Seolah nomor itu sudah tidak lagi digunakan, atau mungkin... aku sudah diblokir.
Di titik itu, emosiku mulai berubah. Bukan lagi takut atau sedih, tapi bercampur dengan marah.
Marah karena dibohongi. Marah karena dipermainkan. Marah karena... aku begitu mudah percaya. Namun di saat yang sama, ada rasa bersalah yang lebih besar, karena aku tidak hanya membawa diriku sendiri ke dalam ini, tapi juga orang lain yang percaya padaku.
Aku mencoba cara lain.
“Ka, tolong jawab. Ini bukan cuama soal aku. Ini banyak uang orang,” tulisku.
Tidak ada balasan.
“Kalau memang ada masalah, ngomong. Jangan hilang kayak gini.”
Masih sunyi.
Semakin tidak ada respons, semakin aku merasa seperti berbicara dengan dinding.
Siang itu, aku dan Dean memutuskan pergi ke kantor polisi. Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi terasa melelahkan. Sepanjang jalan aku lebih banyak diam. Pikiranku penuh, tapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Sesampainya di sana, kami duduk di ruang tunggu. Menunggu giliran dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada harapan kecil, tapi juga ada keraguan besar.
Ketika akhirnya kami berbicara dengan petugas, semuanya terasa rumit. Kami diminta menjelaskan dari awal, menunjukkan bukti, memperlihatkan chat, nomor rekening, dan kronologi kejadian. Aku membuka ponsel dengan tangan yang masih gemetar, memperlihatkan semua yang ku punya.
Namun semakin banyak yang harus kutunjukkan, semakin aku sadar betapa sedikitnya yang benar-benar bisa dijadikan pegangan.
Tidak ada identitas jelas.
Tidak ada alamat pasti.
Hanya nomor rekening dan percakapan.
Petugas itu mengangguk pelan, lalu menjelaskan bahwa laporan tetap bisa dibuat, tapi prosesnya tidak mudah. Harus ada penyelidikan, pelacakan rekening, dan kemungkinan hasilnya pun belum tentu seperti yang kami harapkan.
Aku mengangguk, meskipun di dalam hati rasanya seperti kembali dijatuhkan.
Keluar dari kantor polisi, langit sudah mulai senja. Beberapa jam terasa hilang begitu saja. Aku berdiri di luar, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan sesuatu yang terus bergejolak di dalam dada.