Hari-hari yang kujalani tidak lagi terasa utuh.
Semuanya tetap berjalan, tapi dengan masalah yang semakin bertumpuk. Pagi datang, siang berlalu, malam kembali jatuh, lalu berulang lagi tanpa benar-benar memberi ruang untuk bernapas. Aku tetap bangun, tetap bergerak seperti biasa, hanya saja kali ini ada sesuatu yang mulai hilang, harapan yang perlahan menipis, digantikan oleh rasa putus asa yang datang diam-diam.
Ponselku menjadi sesuatu yang paling ku takuti sekaligus tidak bisa kutinggalkan. Setiap bunyi notifikasi membuat jantungku berdegup lebih cepat, karena aku tahu hampir tidak ada lagi pesan yang datang dengan nada tenang.
Sebagian mulai menagih dengan kata-kata yang lebih keras, sebagian kehilangan sabar, dan tidak sedikit yang mulai menyudutkanku, seolah aku memang bagian dari penipuan itu.
Aku membaca semua pesan itu satu per satu, kadang sambil menahan napas, kadang sambil menahan air mata, lalu tetap membalas dengan kata-kata yang kuusahakan tetap sopan, tetap bertanggung jawab, meskipun di dalam hati aku sendiri tidak tahu harus mulai dari mana untuk memperbaiki semuanya.
Sassa semakin sering menanyakan perkembangan. Wilona juga begitu. Meskipun nada suaranya masih berusaha tenang, aku tahu tekanan yang ia hadapi tidak kalah besar.
Aku mencoba memenuhi apa yang bisa kupenuhi, mengirim sedikit uang sebagai cicilan, meskipun jumlahnya jauh dari cukup. Setiap kali melakukan transfer, rasanya seperti mengurangi beban di satu sisi, tapi menambah sesak di sisi lain, karena aku tahu jumlah yang harus kukembalikan masih jauh lebih besar dari yang mampu kugapai.
Dean mulai sibuk mencari jalan keluar. Ia menghubungi kembali rekan-rekannya saat masih bekerja di notaris dulu, mencoba mencari kemungkinan bantuan, bahkan mulai mencari informasi tentang pengacara. Ia pergi pagi, pulang malam, dengan wajah yang semakin lelah dari hari sebelumnya. Aku tahu ia juga sedang memikirkan banyak hal, tapi ia tidak banyak bercerita.
Kami sama-sama menahan diri, sama-sama berusaha tetap kuat, meskipun dalam diam masing-masing sedang berjuang dengan pikirannya sendiri.
Aku sendiri mulai merasakan tubuhku tidak sekuat biasanya. Aku sering lupa makan, atau bahkan tidak merasa lapar sama sekali. Setiap kali mencoba menelan makanan, rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan.
Perutku kosong, tapi dadaku penuh.
Penuh dengan pikiran, ketakutan, dan penyesalan yang datang tanpa jeda.
Ada hari di mana aku duduk cukup lama di lantai dapur, hanya memandangi makanan yang sudah kusiapkan tanpa menyentuhnya.
Di momen-momen seperti itu, pikiranku mulai berjalan ke arah yang tidak seharusnya saat melihat pisau di dapur.
Bukan karena aku ingin menyerah, tapi karena aku terlalu lelah menahan semuanya.
Namun setiap kali pikiran itu datang, suara anakku selalu berhasil menarikku kembali.
Tangisan kecil.
Panggilan sederhana.