Malam itu, aku tidak lagi hanya duduk dalam diam menatap masalah yang menumpuk. Ada sesuatu yang bergerak di dalam pikiranku secara cepat, berisik, dan penuh kemungkinan.
Foto itu masih terbuka di layar ponselku.
Ayana... atau Airin.
Wajah yang sama, tapi dengan kehidupan yang terasa berbeda. Tidak ada lagi tampilan sederhana seperti saat ia datang ke rumahku. Yang ada justru sebaliknya.
Aku menatap foto itu lama, memperhatikan setiap detail.
Lampu di belakangnya. Meja tempat ia berdiri. Orang-orang di sekitarnya.
Semuanya terasa seperti potongan kecil yang selama ini tidak pernah kumiliki.
“Yang…” panggilku pelan.
Dean yang duduk di sebelahku langsung menoleh. “Ada apa?”
Aku menunjukkan layar ponselku.
“Ini Leo, kan?”
Dean mendekat, memperhatikan dengan serius. Wajahnya langsung berubah.
“Wah… dapet dari mana?”
“Sassa yang kirim. Tapi katanya namanya bukan Ayana… tapi, Airin.”
Dean terdiam beberapa detik. Kami sama-sama diam. Tapi kali ini, rasanya berbeda.
Kami tidak lagi hanya punya cerita. Kami punya sesuatu yang nyata.
Dean menarik napas panjang.
“Kayaknya ini di tempat dugem.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat pikiranku melangkah lebih jauh. Kalau ternyata, kehidupan asli mereka seperti ini.
berarti mereka tidak benar-benar hilang. Berarti… mereka masih bisa ditemukan.
Malam itu aku tidak tidur.
Pikiranku mulai bekerja.
Aku kembali membuka foto itu. Mencoba membaca semuanya. Dari gaya berpakaian, tempat yang terlihat seperti klub, sampai orang-orang yang mungkin tidak sengaja ikut tertangkap kamera.
Aku memperbesar wajahnya.
Menyimpan fotonya.
Mengirimkannya ke nomor Dean dan Ibuku.
Seolah aku tidak mau kehilangan satu-satunya petunjuk yang kupunya.
Keesokan harinya, aku langsung menghubungi Sassa.
“Sa, dapet foto ini dari mana?” tanyaku. Balasannya tidak langsung datang. Beberapa menit kemudian, baru muncul.
“Dari temenku. Dia ditipu juga.”
“Hah? Serius, Sa?”
“Iya. Tapi nominalnya nggak sebesar kamu.”