Pagi akhirnya terbit menyambut kembali kepingan harapan. Rasanya... tubuhku kali ini terasa jauh lebih lelah dari biasanya saat tebangun. Bukan lelah karena kurang tidur. Tapi lelah yang datang dari dalam, seolah pikiranku bekerja semalaman tanpa henti.
Di satu sisi, aku harus kembali mencari secercah harapan yang perlahan mulai muncul. Tapi di sisi lain, ada rasa takut yang perlahan ikut tumbuh.
Takut kalau aku melangkah terlalu jauh. Takut kalau apa yang akan kutemukan, bisa lebih buruk dari yang kubayangkan.
Aku tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan. Entah mereka berkomplot atau tidak, yang jelas aku hanya ingin mengumpulkan bukti sebanyak mungkin.
Aku kembali menghubungi Sassa, namun tidak dibalas. Kali ini denting jam dinding terasa lebih nyaring memecah keheningan dan pikiranku yang kosong.
Menit-menit berlalu, masih tidak ada jawaban.Semakin lama aku menatap layar ponsel, semakin terasa sesak di dada. Sampai akhirnya aku menyerah menunggu.
Aku akhirnya memilih keluar rumah tanpa tujuan yang jelas. Hanya berjalan mengikuti langkah kaki sendiri tanpa tujuan, menyusuri jalanan sekitar rumah. Tanpa sadar, satu jam berlalu begitu saja.
Aku tidak tidak tau ke mana kaki ini mengajakku pergi. Pikiranku terlalu penuh.
Tentang uang. Tentang tanggung jawab. Tentang mereka.
Tentang semuanya.
Saat akhirnya aku pulang, Dean menatapku dalam. Dia tahu aku tidak baik-baik saja. Ia tidak bertanya kemana aku pergi.
Ia hanya memelukku. Lalu mengajakku duduk.
Aku merasa... itu cukup.
Siang harinya, Sassa akhirnya membalas. Tapi yang ia katakan justru membuatku terdiam.
Ia meminta uang sepuluh juta, atau berapa pun yang bisa kubayar sebagai syarat untuk mendapatkan informasi.
Aku menatap pesan itu lama. Tidak tahu harus berkata apa. Dalam kondisi seperti ini yang aku bahkan tidak tahu harus merasa marah atau lelah.
Dean membaca pesan itu dari sampingku. Ia berdecak pelan.
“Dalam kondisi kayak gini pun.. kita masih diminta bayar,” katanya lirih.
Kami saling berpandangan.
Akhirnya aku membalas.
“Maaf, Kak... aku belum ada uang segitu. Sekarang saja aku masih kesulitan untuk refund.”