“Janganlah kamu berputus asa dan janganlah kamu bersedih hati. Sesungguhnya kamu akan menang jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.”
- Ali Imran : 139
Sepulang dari rumah Sassa, tidur malamku justru terasa lebih gelisah dari biasanya.
Aku terbangun saat jam menunjukkan pukul dua dini hari saat ruangan gelap dan sunyi. Di sampingku, Dean dan kedua anakku tertidur lelap tanpa tahu isi kepalaku malam itu.
Aku menatap mereka lama. Tidak terasa air mataku jatuh perlahan.
Bagaimana masa depan anak-anakku nanti?
Bagaimana kalau aku tidak bisa mengganti uang teman-temanku? Bagaimana kalau semua ini justru membuatku dipenjara?
Dadaku terasa sesak.
Aku menangis dalam diam selama beberapa menit, menahan suara agar tidak membangunkan siapa pun.
“Aku nggak boleh nyerah..”
“Aku harus berjuang bagaimanapun caranya demi anak-anakku,” gumamku pelan, mencoba menguatkan hati yang mulai rapuh.
Aku mengambil air wudhu dan memutuskan sujud di sepertiga malam. Kuceritakan semua kegelisahan itu pada Tuhan. Aku pasrah... tapi aku tidak mau menyerah.
Sejak malam dari rumah Sassa, pikiranku memang tidak tenang. Aku merasa berada selangkah lebih dekat dengan mereka, bukan lagi mengejar nama palsu atau nomor yang sudah tidak aktif, tapi kali ini jejak yang benar-benar nyata.
Namun bersamaan dengan itu, rasa takut juga ikut tumbuh.
Bukan lagi soal kehilangan uang.. Aku bahkan sudah terlalu lelah untuk memikirkan nominal.
Yang kutakutkan sekarang adalah..
bagaimana kalau orang-orang yang kami hadapi ternyata lebih berbahaya dari yang kami bayangkan?
Dean terbangun dan menyadari aku sedang menangis dalam doa. Ia memperhatikanku cukup lama tanpa bicara, seolah mengerti tanpa perlu dijelaskan.
Setelah aku selesai, ia menghampiriku.
“Kamu nggak bisa tidur, Yang?”
“Iya... gelisah banget rasanya.”
“Yaudah, duduk di depan yuk.”
Aku hanya mengangguk sambil mengikutinya ke ruang tamu. Aku membenamkan tubuh ke sofa, mencoba mengistirahatkan punggung yang terasa berat memikul beban dunia.
“Soal semalam...” ucap Dean memecah lamunanku. “Kita udah dapet alamat Airin sama Leo. Apa kita datengin aja?”
Aku menarik napas panjang.
Pertanyaan itu ternyata sama beratnya dengan pikiranku sendiri. Apa kami siap menghadapi ini?
“Yaudah.. coba aja dulu besok kita ke alamatnya yang di Bekasi.”
“Berdua aja?”
Aku berpikir sebentar.
“Coba aku tanya Wilona dulu. Siapa tau dia mau ikut.”
Dean mengangguk kecil.
“Kamu nggak ngantuk?”
“Aku... kayaknya nunggu ketiduran aja.”
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul empat pagi.
“Sebentar lagi subuh,” lanjutku lirih.