Rumah kuning itu tetap hening.
Gerbangnya masih tergembok rapat. Tidak ada satu pun orang yang keluar, meskipun video yang kukirim ke Airin dan Leo sudah jelas terbaca. Aku berdiri cukup lama di depan rumah itu sambil menatap pagar besinya, mencoba berharap ada seseorang yang akhirnya muncul dan memberi jawaban.
Tapi tidak ada.
Wilona mulai kehilangan kesabaran. Wajahnya terlihat kesal setengah mati. Baginya, rumah orang tua pelaku sudah ada di depan mata, tapi orang yang kami cari tetap tidak terlihat.
“Gue nggak percaya mereka nggak ada,” gumamnya sambil mondar-mandir kecil di depan rumah.
Karena tidak ada jawaban dari dalam rumah, akhirnya suami Wilona mencoba bertanya kepada warga sekitar dan RT setempat. Awalnya mereka terlihat hati-hati, seperti tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Tapi semakin lama berbicara, semakin banyak hal yang mulai terbuka.
“Memang benar itu rumahnya Leo,” kata salah satu warga.
Dadaku langsung berdegup lebih cepat.
“Tapi mereka jarang pulang,” lanjutnya lagi.
Belum sempat aku merasa lega, warga lain ikut menimpali.
“Sering ada yang nyariin juga kok.”
Aku langsung menoleh cepat.
“Maksudnya gimana, Pak?” tanyaku pelan.
“Iya... banyak yang datang ke sini. Masalahnya sama. Ada juga yang pernah bawa polisi.”
Aku membeku.
Wilona langsung menatapku bersamaan. Ternyata kami bukan satu-satunya.
Rumor tentang Leo dan Airin mulai terdengar jelas dari mulut warga sekitar. Orang-orang memang sering datang mencari mereka. Ada yang marah-marah, ada yang menangis, bahkan ada yang membawa aparat.
Namun hasilnya tetap sama.
Rumah itu hanya rumah orang tua mereka.
Sementara Leo dan Airin sendiri... entah tinggal di mana.
Pencarian hari itu nihil.
Tapi setidaknya sekarang aku tahu kalau kami tidak salah alamat. Dan kami pasti akan kembali lagi ke rumah itu.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Aku menatap jalanan dari balik kaca mobil sambil memikirkan semua perkataan warga tadi.
Banyak korban, katanya. Bahkan ada yang datang membawa polisi.
Berarti mereka memang sudah lama melakukan ini.
Sesampainya di rumah, aku baru saja merebahkan tubuh ketika ponselku bergetar. Wilona menelepon.
“Al, gue kepikiran sesuatu,” katanya cepat tanpa basa-basi.
“Apa?”
“Temen gue punya suami anggota loreng ijo. Katanya pernah nangkep penipu kayak gini cuma dari lacak nomor telepon.”