DUNIA TIPU-TIPU

ARINDA NOVALITA
Chapter #17

KETEMU

Langit mulai gelap saat aku dan Dean kembali berangkat menuju Bekasi. Jalanan sore itu padat seperti biasa karena jam pulang kantor. Lampu kendaraan saling menyala di tengah antrean panjang yang terasa melelahkan. Tapi anehnya, pikiranku justru jauh lebih ramai daripada suara jalanan di luar sana.

Sepanjang perjalanan, aku terus memegang ponsel sambil menunggu kabar dari Sassa.

Sampai akhirnya ponselku berdering.

Sassa.

Aku langsung mengangkatnya cepat, hampir panik.

“Al, temen aku ngabarin. Orderannya Airin udah diambil.”

Dadaku langsung berdegup keras.

“Sekarang?”

“Iya. Kemungkinan jam tujuh malaman sampai rumah dia.”

“Oke... ini aku udah setengah perjalanan kok,” jawabku cepat.

Aku dan Dean langsung saling berpandangan. Kali ini perasaanku mengatakan kalau kami benar-benar akan bertemu mereka. Dan justru karena itu... aku mulai takut.

Bukan takut bertemu.

Aku takut kalau ternyata mereka jauh lebih berbahaya dari yang kami bayangkan. Selama ini kami hanya mendengar cerita. Tentang banyak korban. Tentang ancaman. Tentang bagaimana mereka selalu berhasil lolos dan mengelabui orang-orang.

Dan akhirnya malam ini.. kami akan bertemu mereka lagi. Aku langsung menghubungi Sassa kembali.

“Sa, coba bilang ke papa kamu.. aku mau minta tolong om Ambon itu dampingin kita sekarang ya.”

Om Ambon.

Mantan debt collector profesional yang dikenalkan ayahnya Sassa. Kami bahkan belum tahu nama aslinya dan belum pernah berbicara langsung dengannya.

Sassa langsung mengiyakan. Katanya om itu mau membantu, tapi karena terlalu mendadak, ia butuh waktu untuk sampai ke lokasi.

Aku menarik napas panjang.

Berarti untuk sementara... aku dan Dean harus menghadapi semuanya duluan. Aku juga sempat menghubungi Wilona. Namun kali ini ia tidak langsung ikut.

“Al, gue takut udah jauh-jauh malah nggak ketemu lagi,” katanya jujur. “Kalau Airinnya bener ada, gue langsung nyusul.”

Aku mengerti. Akhirnya aku dan Dean melanjutkan perjalanan hanya berdua.

Sepanjang jalan aku tidak berhenti berdoa.Semoga ketemu, semoga ada jalan keluar, Semoga tidak terjadi apa-apa. Pokoknya semua “semoga” yang bisa kupikirkan malam itu, kuucapkan dalam hati berulang-ulang.

Waktu berlalu dan akhirnya kami sampai di lokasi. Mobil kami parkir agak jauh dari rumah kuning itu, dekat lapangan tenis kecil dengan pencahayaan yang minim.

Aku turun dari mobil dan duduk di bawah pohon sambil memperhatikan rumah itu dari kejauhan.

Jalanan di kompleks itu sebenarnya cukup besar dan padat penduduk. Tapi entah kenapa suasananya terasa sangat sepi. Hampir tidak ada orang di luar rumah. Hanya suara motor yang sesekali lewat dan lampu-lampu rumah warga yang terlihat samar di balik pagar tinggi mereka.

Aku dan Dean terus memantau dari jauh tanpa banyak bicara.

Beberapa menit kemudian, gerbang rumah kuning itu terbuka. Seorang anak laki-laki keluar sambil menaiki sepeda gunung.

Lihat selengkapnya