DUNIA TIPU-TIPU

ARINDA NOVALITA
Chapter #19

SURAT DAN KEBOHONGAN

Begitu aku dan Dean kembali dari warung, suasana di rumah kuning itu terasa berbeda. Tidak lagi sepanas saat aku meninggalkannya beberapa menit lalu.

Om Ambon duduk santai di kursi plastik bersama teman pria yang datang bersamanya, sementara bapaknya Leo duduk berhadapan dengan mereka sambil merokok. Dari kejauhan aku sudah bisa mendengar percakapan mereka.

Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan, sampai akhirnya bapaknya Leo mulai menyebut nama-nama yang terdengar asing di telingaku. Ada nama seorang jenderal, anggota dewan, pengacara, hingga tokoh-tokoh yang konon cukup berpengaruh. Semakin lama aku mendengarkan, semakin terasa kalau sebenarnya ia sedang berusaha meninggikan dirinya sendiri. Seolah ingin menunjukkan bahwa keluarganya memiliki banyak koneksi dan tidak mudah disentuh oleh hukum.

Namun anehnya, setiap nama yang disebutkan selalu mendapat respons tenang dari Om Ambon.

"Oh, beliau? Saya kenal."

Atau,

"Minggu kamaring beta ketemu deng beliau. Dong undang beta pi ulang tahun anak perempuannya e."

"Ah, iya betul, betul. Minggu kemarin anak perempuannya ulang tahun e? Bung ini tahu rupanya ya."

Aku mulai memahami apa yang dimaksud Dean saat kami berjalan ke warung tadi. Ini bukan lagi soal siapa yang paling marah atau siapa yang paling keras suaranya. Mereka sedang bermain koneksi disini. Masalahnya, bapaknya Leo tidak tahu bahwa orang yang sedang duduk di depannya adalah seseorang yang sudah puluhan tahun berkeliling Indonesia sebagai debt collector profesional. Hampir semua nama yang disebutkannya ternyata sudah lebih dulu dikenal oleh Om Ambon.

Begitu melihatku kembali, Om Ambon langsung tersenyum ramah.

"Nah, ini ponakan saya yang cantik sudah datang. Gimana, Alena? Sudah lebih tenang?"

Aku mengangguk pelan.

"Iya, Om."

Om Ambon lalu kembali menoleh ke arah Airin dan Leo.

"Sebenarnya urusan begini gampang saja," katanya santai. "Kalau niat tanggung jawab, selesai sudah. Tapi kalau tidak niat tanggung jawab, biasanya urusannya jadi panjang."

Kalimat itu membuat suasana langsung hening.

Ia kemudian mengambil map cokelat yang sejak tadi kubawa.

"Gini ya. Beta sebagai walinya Alena cuma mau minta kejelasan. Beta tiba-tiba dapat kabar kalau ponakan ada uang sampai seratus lima puluh delapan juta yang barangnya tidak dikirim. Ini ceritanya bagaimana?"

Belum sempat aku bicara, Airin langsung menyela.

"Loh, mba. Apa-apaan tiba-tiba jadi seratus lima puluh delapan juta? Setahu gue cuma sembilan puluh jutaan."

Aku langsung mengernyit.

"Sembilan puluh jutaan apaan sih, Rin?"

Aku membuka map di pangkuanku lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah kusiapkan sejak siang.

"Nih. Gue bawa rinciannya. Barang apa aja, jumlahnya berapa, harganya berapa, kurangnya berapa. Semua ada."

Aku meletakkan lembaran itu di meja.

"Silakan dibaca."

Suasana yang tadinya mulai tenang langsung menegang lagi. Aku bahkan sudah menyiapkan beberapa salinan.

"Ini buat Om. Ini buat Bapak juga."

Bapaknya Leo mengambil salah satu lembar itu dan mulai membaca perlahan.

Namun seperti biasa, Airin tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengelak.

"Tunggu bentar. Yang tujuh puluh juta ini kan order terakhir lo?"

Aku mengangguk.

Lihat selengkapnya