Kedatangan Wilona ternyata tidak membuat suasana menjadi lebih tenang. Justru sebaliknya.
Begitu melihat Airin dan Leo berdiri di halaman rumah itu, seluruh kemarahan yang selama ini ia tahan langsung meledak.
“Heh! Balikin duit gue!”
Suara Wilona menggema cukup keras di halaman rumah yang sejak tadi menjadi saksi perdebatan kami. Namun seperti yang sudah kuduga, Airin tidak mau kalah.
“Eh, Mbak? Lo siapa? Gue nggak ada urusan ya sama lo. Urusan gue sama Alena.”
Wilona langsung tertawa sinis.
“Ye, kocak. Duit yang lo bawa kabur itu ada duit gue juga!”
“Eh diem lo!” bentak Airin. “Transaksi gue sama Alena. Jadi gue nggak ada urusan sama lo.”
Aku melihat tangan Wilona mengepal kuat di samping tubuhnya. Ia berusaha menahan diri agar tidak terpancing. Saat itu aku kembali menyadari sesuatu yang sejak tadi sebenarnya sudah terlihat jelas. Airin sengaja hanya mau berbicara denganku. Ia mengabaikan Dean, mengabaikan Wilona, bahkan beberapa kali mencoba menghindari pertanyaan Om Ambon. Seolah-olah aku adalah satu-satunya orang yang boleh diajak bicara.
Dan mungkin memang begitu.
Karena dari semua orang yang hadir malam itu, akulah yang paling mudah ditekan. Aku menarik napas panjang lalu memotong perdebatan yang mulai melebar.
“Yaudah, Rin. Jadi gimana? Lo mau balikin kapan?”
Airin langsung menjawab cepat, seperti sudah menyiapkan alasan baru.
“Eh mba, sabar dong. Duit lo juga ada di agen gue. Agen sana juga nggak ngirim-ngirim barang dan duit gue juga masih nyangkut di dia. Kalau lo mau urusan langsung sama agen gue, yaudah sana. Tapi kalau lo nagih ke dia berarti urusan lo sama gue selesai.”
Aku sampai mengernyit mendengarnya.
Alasan baru lagi.
Tanpa banyak berpikir aku langsung menjawab.
“Yaudah. Sini nomor agennya.”
Airin tampak kaget. Mungkin ia tidak menyangka aku akan menyetujuinya.
“Eh, ngapain lo minta-minta nomor agen gue?” balasnya cepat. “Ini urusan dapur gue. Lo nggak usah ikut campur.”
Aku langsung tertawa kecil.
“Loh? Katanya gue suruh nagih langsung ke agen lo. Giliran gue minta nomor, malah dibilang ikut campur?”
Airin terlihat kesal karena lagi-lagi alasannya mentok di tempat.
“Ya sabar dong!”
“Ini gue udah sabar, Rin!” balasku. “Kurang sabar apa gue? Lo ngilang berminggu-minggu tanpa kabar!”
Wilona yang sejak tadi duduk memperhatikan hanya tertawa kecil penuh kesal.