Malam sudah semakin larut ketika kami akhirnya meninggalkan rumah Leo. Jalanan Bekasi yang tadi terasa begitu menyesakkan kini mulai lengang. Di dalam mobil, tidak ada lagi suara bentakan ataupun adu argumen. Hanya suara mesin mobil dan rasa lelah yang perlahan mulai mengambil alih seluruh tubuhku.
Beberapa ratus meter dari rumah Leo, Om Ambon meminta Dean menepi di sebuah warung pecel lele di pinggir jalan.
"Katong makan dolo e. Dari tadi baku marah terus, perut su kosong semua," katanya sambil tertawa kecil.
Aku baru menyadari sejak sore kami belum makan. Entah karena gugup atau terlalu fokus menghadapi Airin dan Leo, rasa lapar seolah menghilang begitu saja. Baru ketika duduk di bangku plastik warung sederhana itu, tubuhku mulai terasa lemas.
Di atas meja hanya ada teh hangat, sambal, lalapan, dan beberapa piring pecel lele yang baru diantar. Suasananya sangat berbeda dengan beberapa menit sebelumnya. Tidak ada lagi nada tinggi. Tidak ada lagi emosi yang saling berbenturan.
Om Ambon menatapku sambil tersenyum tipis.
"Beta bersyukur, ale cepat tangkap tadi."
Aku menatap beliau bingung.
"Maksudnya, Om?"