Hari Senin akhirnya datang.
Sejak bangun tidur, pikiranku hanya dipenuhi satu pertanyaan. Apakah mereka akan bayar?
Nominal cicilan pertama memang tidak besar jika dibandingkan total kerugianku. Namun bukan itu yang membuatku gelisah. Aku hanya ingin tahu apakah surat perjanjian yang ditandatangani beberapa hari yang lalu memiliki arti, atau hanya menjadi selembar kertas yang nantinya berakhir di dasar laci.
Siang harinya aku mulai menghubungi Airin tapi tidak ada balasan. Sejam kemudian aku menghubungi kembali. Tentu saja masih sama, tidak ada jawaban.
Hingga matahari mulai turun, namun ruang obrolan kami tetap membisu. Suara notifikasi yang kutunggu tidak pernah datang. Berkali-kali aku membuka WhatsApp, berharap ada pesan dari Airin tetap tidak ada balasan. Padahal malam itu adalah jadwal pembayaran pertama sesuai surat perjanjian.
Aku sengaja tidak banyak mengirim pesan. Cukup satu dua kali, selebihnya kubiarkan layar ponsel menjawab sendiri.
Aku baru sadar kalau ternyata menagih utang juga punya jadwal.
Hari Senin yang dulu terasa biasa saja, mendadak berubah menjadi hari yang paling kubenci. Bukan karena pekerjaan atau macetnya perjalanan menuju Bekasi. Tapi sekarang setiap Senin aku harus menunggu satu orang yang entah akan membayar, menghilang, atau kembali menemukan alasan baru. Belum lagi Sassa dan Wilona yang menunggu pembayaran berikutnya dariku.
Layar ponselku hanya menampilkan dua centang tanpa tanda-tanda kehidupan dari seberang sana.
Menjelang sore Dean mulai melirikku.
"Gimana?"
Aku hanya menggeleng pelan.
"Nggak dibalas juga."
Dean sudah bisa menebak akhir ceritanya. Ia bahkan tidak bertanya apakah kami jadi berangkat atau tidak. Ia hanya mengambil kunci mobil, seolah perjalanan menuju Bekasi memang sudah menjadi agenda rutin yang tidak perlu dibicarakan lagi.
Kami mulai berangkat untuk menjemput Om Ambon lebih dulu, jaraknya sekitar dua puluh lima menit dari rumahku. Syukurnya beliau sudah menunggu di pinggir jalan.
Om Ambon terlihat santai.
Sambil masuk ke mobil, beliau berkata, "Beta tadi su jalan-jalan sedikit di sekitar rumah Leo."
"Jalan-jalan?" tanyaku bingung.
"Iya. Beta survei."