Aku tidak pernah benar-benar ingin pulang ke rumah itu. Bukan karena aku membencinya, tapi karena ada sesuatu yang selalu terasa tertinggal di sana—sesuatu yang tidak pernah selesai, sesuatu yang diam-diam terus memanggil, bahkan saat aku sudah berusaha melupakannya bertahun-tahun.
Bus yang kutumpangi berhenti pelan di sebuah pengkolan yang ramai di pinggir jalan utama. Suara remnya mendesis panjang sebelum pintu terbuka dan beberapa penumpang buru-buru turun sambil menenteng belanjaan. Aku sengaja tetap duduk beberapa detik lebih lama, memandangi suasana di luar jendela dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Sudah lama sekali aku tidak pulang.
Dan entah kenapa, semakin lama aku menunda turun, semakin ringan rasanya. Seolah selama kakiku belum benar-benar menginjak tanah kampung ini, aku belum harus menghadapi apa pun yang menungguku di rumah.
Akhirnya aku berdiri juga.
Tas ransel kusampirkan di bahu lalu aku turun perlahan dari bus. Udara sore khas Kuningan langsung menyambut wajahku—dingin tipis yang turun dari arah Gunung Ciremai, bercampur aroma gorengan, asap knalpot, dan kopi dari warung pinggir jalan.
Aku terdiam sesaat.
Pengkolan ini berubah jauh dari yang kuingat.
Di sudut jalan yang dulu hanya warung bambu kecil, sekarang berdiri minimarket dengan papan lampu terang menyala bahkan sebelum maghrib tiba. Tepat di sebelahnya ada konter handphone dengan spanduk warna-warni bertuliskan SERVIS HP — PAKET DATA — TRANSFER BANK. Musik dari speaker kecil terdengar samar bercampur suara kendaraan yang lalu-lalang.
Beberapa remaja duduk di depan kedai kopi modern yang baru buka, sibuk menatap layar ponsel masing-masing. Motor-motor matic berjajar di pinggir jalan. Lampu toko mulai menyala satu per satu ketika langit perlahan berubah jingga gelap.
Namun di balik semua perubahan itu, aku masih bisa mengenali bentuk lama tempat ini.
Mushola kecil di dekat pertigaan itu masih ada, meski cat temboknya sudah baru. Pohon besar di pinggir jalan masih berdiri di tempat yang sama, hanya saja kini sebagian batangnya tertutup baliho iklan provider internet.
Seorang ibu turun dari bus sambil menggandeng anak kecil yang terus bertanya tentang es krim di minimarket. Mereka berjalan melewatiku begitu saja, larut dalam hiruk-pikuk sore yang terasa asing sekaligus akrab.
Aku memandangi mereka lebih lama dari yang seharusnya.
Ada sesuatu yang terasa kosong di dalam dada. Bukan sedih. Bukan iri.
Lebih seperti kerinduan pada sesuatu yang pernah kumiliki, tetapi perlahan hilang tanpa kusadari.
Ada rasa aneh yang perlahan muncul di dada.
Bukan sedih.
Bukan juga nostalgia.
Lebih seperti seseorang yang kembali ke tempat lama… lalu sadar bahwa waktu tetap berjalan tanpanya.
Dari kejauhan terdengar adzan Ashar menggema dari masjid kecamatan. Suaranya bersahut-sahutan dengan klakson motor dan suara orang berjualan. Langit di atas Kuningan mulai tertutup awan tipis, sementara udara dingin gunung perlahan turun bersama sore.
Aku menarik napas panjang.
Lalu menatap jalan kecil yang menuju rumah.
Jalan itu masih sama.
Sedikit menanjak.
Dan entah kenapa, begitu melihatnya, perasaan tidak nyaman yang sejak tadi samar… mulai terasa semakin jelas.
Aku sempat berhenti di depan warung kecil dekat ujung jalan. Dulu, ibu sering membelikanku teh hangat di sana setiap kami pulang dari pasar. Aku hampir melangkah masuk, tapi kemudian mengurungkan niat. Tidak semua kenangan harus disentuh kembali.
Perjalanan menuju rumah terasa lebih panjang dari biasanya. Gang sempit yang dulu terasa akrab kini tampak seperti lorong yang mengarah ke masa lalu yang tidak ingin kuingat. Setiap langkah terasa berat, seolah ada bagian dari diriku yang terus menolak untuk maju.
Dan ketika akhirnya aku berdiri di depan gerbang rumah itu, langkahku terhenti begitu saja.
Rumah itu masih berdiri seperti dulu. Catnya mulai mengelupas, kayu-kayunya terlihat lebih tua, tapi bentuknya tidak berubah. Justru itu yang membuatnya terasa ganjil. Terlalu sama, seolah waktu tidak benar-benar menyentuhnya.
Aku menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mendorong gerbang. Engselnya berderit pelan, suara yang langsung menarik ingatan lama dari dalam kepalaku. Dulu, setiap kali aku pulang sekolah dan membuka gerbang ini, ibu selalu menyambut dari dalam rumah.
“Daris, sudah pulang?”
Suara itu dulu selalu membuat langkahku terasa ringan.
Sekarang… justru membuat dadaku terasa berat.
Aku menghela napas dan menggeleng pelan, mencoba menyingkirkan ingatan itu. Ibu sudah tidak ada. Sudah lama sekali. Aku sudah melewati semua itu. Setidaknya, itu yang selalu kukatakan pada diriku sendiri.
Halaman rumah terasa lebih sempit, atau mungkin aku saja yang berubah. Rumput liar mulai tumbuh di beberapa sudut. Pot tanaman yang dulu dirawat ibu kini tampak kering dan retak. Ada sesuatu yang hilang, tapi bukan hanya dari rumah ini—lebih seperti dari seluruh suasana yang dulu pernah hidup di dalamnya.
Aku melangkah mendekat ke pintu depan dan menyadari sesuatu yang membuatku berhenti lagi: pintunya tidak terkunci. Ayah bukan orang yang ceroboh. Bahkan terlalu disiplin untuk hal-hal kecil seperti itu.