Dzikir yang Tertinggal di Dalam Rumah

Agung Wahyu Prayitno
Chapter #2

Rumah Yang Berbeda


Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di depan pintu itu.


Waktu seperti berhenti. Tubuhku kaku, napasku tertahan, dan pikiranku menolak memproses apa yang baru saja terjadi. Pintu kamar ibu terbuka sedikit, cukup untuk memperlihatkan kegelapan di dalamnya—kegelapan yang terasa lebih pekat dari seharusnya.


“Daris?”


Suara itu masih terngiang di telingaku.


Suara yang terlalu kukenal.


Suara yang seharusnya tidak mungkin ada lagi.


Aku mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Tanpa berani memalingkan pandangan dari celah pintu itu, aku kembali ke kamarku dengan gerakan kaku. Tanganku gemetar saat menutup pintu, lalu segera menguncinya.


Klik.


Suara kunci itu terasa seperti satu-satunya hal nyata di tengah semua yang baru saja terjadi.


Aku bersandar di pintu, mencoba mengatur napas. Dadaku naik turun cepat. Jantungku belum juga tenang.


“Ini cuma perasaan,” bisikku pelan. “Cuma halusinasi.”


Tapi bagian lain dari diriku tahu itu bukan.


Aku terlalu mengenal suara itu untuk menyebutnya sekadar halusinasi.


Aku melirik ke arah jendela. Langit di luar benar-benar gelap sekarang. Tidak ada suara apa pun dari luar rumah. Tidak ada motor, tidak ada orang lewat, bahkan tidak ada anjing menggonggong.


Sepi.


Terlalu sepi.


Aku berjalan ke tempat tidur dan duduk perlahan. Kepalaku terasa penuh, seperti ada sesuatu yang berusaha keluar dari ingatan lama yang selama ini kutekan.


Kamar ibu.


Sudah berapa lama kamar itu tidak dibuka?


Dan kenapa… suara itu terdengar seperti baru saja datang dari sana?


Aku memejamkan mata, mencoba memaksa diri untuk tenang. Tapi justru dalam gelap itulah bayangan-bayangan mulai muncul. Potongan-potongan ingatan yang tidak utuh. Suara ibu. Bau minyak wangi. Dzikir yang diulang pelan.


Dan sesuatu yang lain.


Sesuatu yang dulu tidak pernah benar-benar kupahami.


Aku membuka mata cepat, seolah takut tenggelam lebih dalam ke dalam ingatan itu.


Tidak.


Aku tidak mau kembali ke sana.



Aku tidak ingat kapan akhirnya tertidur.


Yang jelas, ketika aku terbangun, cahaya matahari sudah masuk melalui celah tirai. Untuk beberapa detik, semuanya terasa normal. Tidak ada suara aneh, tidak ada perasaan diawasi, tidak ada pintu yang bergerak sendiri.


Seolah malam tadi tidak pernah terjadi.


Aku menghela napas panjang, mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin itu hanya mimpi yang terlalu nyata.


Tapi begitu aku membuka pintu kamar…


Aku tahu itu bukan mimpi.


Lorong itu masih sama. Sunyi, dengan cahaya redup yang terasa tidak berubah sejak semalam. Dan di ujungnya… pintu kamar ibu.


Tertutup rapat.


Tidak ada celah.


Tidak ada tanda bahwa pintu itu pernah terbuka.


Aku berdiri beberapa saat, menatapnya.


Mungkin aku memang hanya membayangkannya.


Atau mungkin… ada sesuatu yang tidak ingin meninggalkan jejak.


“A.”


Suara Rania dari belakang membuatku menoleh cepat. Ia berdiri di dekat dapur, menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca.


“Kamu sudah bangun,” katanya pelan.


Aku mengangguk. “Iya.”


Aku sempat ragu sebelum bertanya, tapi akhirnya kata-kata itu keluar juga. “Tadi malam… kamu dengar sesuatu?”


Rania terdiam.


Wajahnya tidak berubah, tapi ada sesuatu dalam matanya yang tiba-tiba terlihat tegang.


“Maksudnya?” tanyanya.


“Suara,” jawabku. “Dari kamar ibu.”


Sunyi.


Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.


Rania menunduk sedikit, seolah menghindari tatapanku. Tangannya saling menggenggam, seperti menahan sesuatu.


“Enggak,” katanya akhirnya. “Aku enggak dengar apa-apa.”

Lihat selengkapnya