Aku tidak membuka pintu malam itu.
Entah karena takut, atau karena bagian kecil dalam diriku tahu bahwa ada sesuatu yang tidak bisa dikembalikan lagi jika aku melakukannya. Aku hanya duduk di tempat tidur, menatap bayangan di bawah celah pintu yang tidak bergerak.
Beberapa menit berlalu. Atau mungkin lebih lama.
Bayangan itu akhirnya menghilang.
Tanpa suara langkah.
Tanpa tanda apa pun.
Hanya… tidak ada lagi.
Aku tidak ingat kapan akhirnya tertidur. Yang tersisa hanya perasaan dingin yang menempel di kulitku, bahkan ketika pagi datang dan cahaya matahari mulai masuk melalui jendela.
Udara pagi di Kuningan selalu berbeda. Lebih segar, lebih dingin, membawa aroma tanah basah dari arah lereng Gunung Ciremai. Dari kejauhan terdengar suara ayam dan motor warga yang mulai beraktivitas. Sesekali adzan Subuh yang terlambat dari mushola kecil di ujung gang masih bergema samar tertiup angin gunung.
Dulu aku menyukai pagi seperti ini.
Ibu sering membuka semua jendela rumah setelah Subuh, membiarkan udara dingin masuk sambil melantunkan dzikir pelan di dapur. Kadang aku terbangun karena suara itu. Kadang karena aroma kopi hitam yang dibuat ayah.
Sekarang rumah ini masih memiliki udara yang sama, tapi tidak lagi terasa hidup.
Aku membuka pintu kamar dengan hati-hati.
Lorong itu kosong.
Tidak ada bayangan.
Tidak ada siapa pun.
Namun entah kenapa, aku tetap merasa seperti seseorang baru saja pergi dari sana.
“A sudah bangun?”
Suara Rania terdengar dari arah dapur. Nada suaranya sama seperti kemarin—pelan, datar, seolah tidak ingin menarik perhatian.
“Iya,” jawabku singkat.
Aku berjalan ke arah suara itu. Rania sedang berdiri di dekat kompor, menuangkan air panas ke dalam gelas. Gerakannya pelan, terlalu pelan, seperti orang yang sedang menahan gemetar.
Aku memperhatikannya beberapa detik.
“Kamu tadi malam ke kamar aku?” tanyaku langsung.
Rania berhenti.
Tangannya yang memegang gelas sedikit bergetar. Air di dalamnya beriak pelan.
“Enggak,” jawabnya tanpa menoleh.
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Aku mendekat satu langkah. “Aku lihat bayangan di depan pintu.”
Rania masih tidak menoleh. Ia hanya meletakkan gelas itu pelan di meja.
“Mungkin Aa salah lihat.”
Aku menarik napas panjang, menahan kesal yang mulai muncul. “Rania, aku enggak lagi bercanda.”
Akhirnya ia menoleh.
Matanya bertemu dengan mataku.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku pulang, aku melihat sesuatu yang benar-benar jelas di sana—ketakutan.
Bukan takut biasa.
Tapi takut yang sudah lama tinggal.
“Kamu juga dengar, kan?” tanyaku pelan. “Suara itu.”
Rania tidak menjawab.
Bibirnya sedikit terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi menahannya di detik terakhir.
“Rania.”
Ia menggeleng pelan. “Aa… mending jangan dibahas.”
Nada suaranya berubah. Lebih rendah. Lebih serius.
“Kenapa?”
Rania menatap ke arah lorong. Ke arah kamar ibu.
Lalu kembali padaku.
“Karena… dia enggak suka.”
Aku membeku.
“Siapa?”
Rania tidak menjawab.
Ia mengambil gelas itu lagi, lalu berjalan menjauh, meninggalkanku di dapur dengan pertanyaan yang semakin banyak.
Aku memperhatikan langkahnya sampai menghilang di balik lorong. Ada sesuatu yang aneh dari cara ia berjalan. Pelan, hati-hati, seolah takut membuat suara terlalu keras.
Rumah ini mengubahnya.
Atau mungkin… sesuatu di dalam rumah ini.
—
Hari itu terasa lebih berat dari kemarin.
Langit di atas Kuningan mulai tertutup awan sejak siang. Angin dari arah gunung bertiup lebih kencang, membawa udara dingin yang masuk sampai ke dalam rumah. Tirai di ruang tamu bergerak pelan, meskipun semua jendela tertutup.
Aku duduk di sofa, mencoba membaca sesuatu dari ponselku, tapi tidak ada satu pun kata yang benar-benar masuk ke kepala.
Pikiranku terus kembali ke satu hal.
“Dia enggak suka.”