Tanganku masih menempel di gagang pintu ketika suara itu kembali terdengar.
“Aa… buka…”
Pelan.
Lemah.
Dan anehnya, justru itu yang membuat bulu kudukku berdiri. Ada sesuatu dalam nada suara Rania yang tidak terdengar seperti dirinya sendiri. Seolah seseorang sedang mencoba meniru caranya berbicara, tetapi tidak benar-benar memahami bagaimana menjadi manusia.
Aku menelan ludah.
“Rania?” panggilku hati-hati.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napas pelan dari balik pintu.
Aku menoleh sekilas ke arah jendela kamar. Di luar sana, kabut malam dari lereng Gunung Ciremai semakin tebal. Cahaya lampu halaman terlihat samar seperti tertelan putih pucat yang menggantung di udara.
Rumah itu terasa dingin.
Bukan dingin biasa.
Melainkan dingin yang perlahan masuk ke tulang.
“Aa…”
Kali ini suara itu terdengar lebih dekat.
Tepat di depan pintu.
Aku menarik napas panjang, lalu perlahan memutar gagang pintu.
Klik.
Pintu terbuka sedikit.
Lorong di luar gelap dan sunyi. Lampu kecil di ujung lorong berkedip pelan, membuat bayangan dinding bergerak samar.
Dan di sana…
Rania berdiri membelakangiku.
Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian punggung. Ia mengenakan baju tidur putih yang tadi dipakainya saat makan malam. Tubuhnya diam, tidak bergerak sedikit pun.
“Rania?”
Ia tidak menjawab.
Aku membuka pintu lebih lebar dan melangkah keluar. Lantai kayu berderit pelan di bawah kakiku.
“Ngapain berdiri di sini?” tanyaku.
Masih tidak ada jawaban.
Ada sesuatu yang salah.
Perlahan aku mendekat. “Rania?”
Tubuhnya tampak sedikit gemetar.
Aku mengulurkan tangan untuk menyentuh bahunya.
Dan tepat sebelum tanganku menyentuhnya—
Rania berbisik pelan.
“Jangan lihat wajahku, A.”
Aku langsung berhenti.
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Apa?”
Rania menunduk lebih dalam.
“Jangan…” suaranya bergetar. “Tolong jangan lihat.”
Aku merasakan dingin menjalar perlahan ke tengkukku. Angin malam masuk dari ventilasi rumah, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lain.
Aroma minyak wangi ibu.
Aku mundur setengah langkah.
“Rania, kamu kenapa?”
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia bergerak pelan. Sangat pelan. Kepalanya mulai menoleh sedikit ke arahku.
Dan saat itulah lampu lorong berkedip lebih keras.
Ctak!
Gelap.
Tubuhku langsung membeku.
Seluruh lorong tenggelam dalam hitam pekat.
Aku menahan napas.
Tidak ada suara.
Tidak ada langkah.
Tidak ada apa pun.
Lalu—
Ctak!
Lampu menyala kembali.
Lorong itu kosong.
Rania tidak ada.
Dadaku langsung menegang.
“Rania?”
Aku berjalan cepat menyusuri lorong. Langkahku bergema pelan di lantai kayu tua. Pintu kamar ayah tertutup. Kamar ibu masih sama—tertutup rapat, sunyi, seperti mengawasi.
“Rania!”
Kali ini suaraku lebih keras.
Tidak ada jawaban.