Dzikir yang Tertinggal di Dalam Rumah

Agung Wahyu Prayitno
Chapter #5

Kamar Yang Tidak Pernah Kosong

Aku mundur begitu cepat hingga tubuhku membentur meja kecil di dekat ranjang. Tasbih kayu milik ibu jatuh ke lantai, butiran-butirannya berserakan dengan suara beradu yang memecah kesunyian kamar.


Mata itu masih ada.


Diam.


Menatapku dari dalam lemari.


Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Hanya sepasang mata pucat di tengah gelap yang terlalu pekat untuk disebut bayangan biasa.


Tubuhku terasa dingin. Napasku tercekat di tenggorokan.


Lalu—


Brak!


Pintu lemari menutup sendiri dengan keras.


Aku tersentak.


Suara itu menggema ke seluruh kamar, membuat dinding kayu bergetar pelan. Setelah itu semuanya kembali sunyi. Terlalu sunyi.


Aku berdiri mematung beberapa detik sebelum akhirnya memaksa tubuhku bergerak menuju pintu kamar.


Tanganku gemetar saat mencoba memutar gagangnya lagi.


Dan kali ini—


Klik.


Pintu terbuka.


Aku hampir terjatuh ketika buru-buru keluar dari kamar itu. Udara di lorong terasa sedikit lebih hangat, tapi jantungku masih berdetak kacau.


Aku menoleh cepat ke belakang.


Pintu kamar ibu terbuka setengah. Gelap di dalamnya tampak diam, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


Tapi aku tahu apa yang kulihat.


Aku tahu ada sesuatu di sana.


Dan sesuatu itu… melihatku juga.


“Aa?”


Suara Rania membuatku tersentak lagi.


Ia berdiri di ujung lorong sambil memegang gelas air. Wajahnya pucat ketika melihatku.


“Kamu kenapa?” tanyanya pelan.


Aku menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Ada sesuatu di kamar itu.”


Rania langsung membeku.


Gelas di tangannya bergetar kecil.


“Kamu masuk?” suaranya hampir seperti bisikan.


Aku mengangguk pelan.


Dan ekspresi di wajah Rania berubah seketika. Bukan kaget. Bukan bingung.


Takut.


Takut yang sangat dalam.


“Aku udah bilang jangan,” katanya lirih.


“Ada seseorang di dalam lemari.”


Rania menunduk cepat.


Seolah ia tidak ingin mendengar kelanjutan kalimatku.


“Rania.” Aku mendekat satu langkah. “Sebenarnya apa yang terjadi di rumah ini?”


Ia menggigit bibirnya pelan. Matanya mulai berkaca-kaca.


“Aku enggak tahu harus jelasin dari mana…”


“Mulai dari yang kamu tahu.”


Rania menggeleng pelan.


“Aa bakal pergi kalau aku cerita.”


Aku hanya menatapnya. Pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalaku membuatku terdiam sesaat.


Apakah aku akan pergi?


Entahlah.


Sebagian diriku ingin keluar dari rumah ini malam itu juga. Naik kendaraan pertama dan tidak pernah kembali lagi. Tapi bagian lain justru merasa seperti ditarik semakin dalam.


Seolah rumah ini belum selesai denganku.


“Aku enggak akan pergi,” kataku akhirnya.


Rania menatapku lama, seperti mencoba memastikan aku serius.


Lalu ia berkata sangat pelan, “Dia mulai muncul sejak ibu meninggal.”


Angin malam berembus dari jendela ruang tengah. Tirai bergerak perlahan, menciptakan bayangan yang bergoyang di dinding.


Aku menahan napas.


“Siapa dia?”


Rania menggeleng. “Aku enggak pernah lihat jelas.”


“Terus?”


“Awalnya cuma suara.”


Ia duduk perlahan di kursi ruang tengah. Aku ikut duduk di depannya.


Rania terlihat sangat lelah malam itu. Wajahnya pucat, matanya cekung seperti seseorang yang sudah lama tidak tidur nyenyak.


“Kadang suara dzikir,” lanjutnya lirih. “Kadang suara ibu manggil.”


Dadaku menegang.


Lihat selengkapnya