Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di lorong malam itu.
Suara dzikir dari kamar ibu masih terdengar samar, bercampur tawa pelan yang membuat udara rumah terasa semakin dingin. Rania berdiri di sampingku sambil terus membaca istighfar dengan suara gemetar. Wajahnya pucat seperti orang yang sudah terlalu sering mengalami ketakutan yang sama.
Sementara aku…
aku hanya terpaku menatap gelap di balik pintu kamar itu.
“…Allahu… Allahu… Allahu…”
Suara-suara itu terus bersahutan dari dalam. Tidak lagi terdengar seperti dzikir yang menenangkan. Ada sesuatu yang salah di dalam iramanya. Sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
Lalu—
Brak!
Pintu kamar ibu menutup sendiri dengan keras.
Suara dzikir langsung berhenti.
Sunyi.
Begitu mendadak hingga telingaku berdenging.
Rania langsung mencengkeram lenganku kuat-kuat. Tangannya dingin.
“Aa… masuk kamar aja…” bisiknya.
Aku masih menatap pintu itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Malam itu tidak ada lagi yang bicara.
Rania buru-buru kembali ke kamarnya. Aku sendiri masuk ke kamar dengan langkah berat, lalu mengunci pintu tanpa sadar.
Untuk pertama kalinya sejak pulang ke rumah ini, aku mulai merasa benar-benar takut.
Bukan takut seperti saat menonton film horor atau mendengar cerita mistis waktu kecil.
Tapi takut yang pelan-pelan masuk ke kepala.
Takut yang membuat rumah sendiri terasa asing.
Aku duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipis. Kepalaku berdenyut sejak tadi. Tubuhku lelah, tapi pikiranku terus berputar.
Tentang suara ibu.
Tentang perempuan di halaman.
Tentang mata pucat di dalam lemari.
Dan tentang satu hal yang terus mengganggu pikiranku sejak tadi—
Kenapa semua ini terasa familiar?
Aku mengangkat kepala perlahan.
Ingatanku jatuh pada tasbih kayu milik ibu yang tadi tergeletak di atas meja kecil dekat ranjang. Butiran kayunya tampak kusam dimakan usia. Ingatanku jatuh pada tasbih kayu milik ibu yang tadi putus.
Entah kenapa, mengingat tasbih itu justru membuat dadaku terasa semakin sesak.
Aku berbaring perlahan tanpa mematikan lampu.
Tatapanku terus mengarah ke langit-langit kamar yang retak dimakan waktu. Angin malam masuk dari sela jendela membawa udara dingin khas Kuningan.
Di luar, suara dedaunan bergerak pelan diterpa angin gunung.
Mataku mulai terasa berat.
Sangat berat.
Dan akhirnya, tanpa sadar, aku tertidur.
—
Aku berdiri di halaman belakang rumah.
Gelap.
Kabut tipis menyelimuti tanah dan rumput liar di sekitarku.
Aku menunduk cepat ketika menyadari sesuatu yang aneh.
Tubuhku kecil.
Tanganku kecil.
Aku memakai celana pendek biru lusuh dan sandal jepit kecil yang sangat kukenal.
Jantungku langsung berdegup keras.
Aku tahu ini.
Aku tahu masa ini.
1998.
Aku berusia sepuluh tahun.
Udara malam terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya. Dari kejauhan terdengar suara orang-orang berteriak samar. Ada suara motor. Suara kaca pecah. Dan cahaya merah seperti api yang berkedip di balik pepohonan.
Suasana di luar kacau.
Tapi anehnya, rumah kami terasa jauh lebih sunyi dibanding dunia di luarnya.
Aku berdiri mematung di halaman belakang sambil menatap sumur tua.
Sumur itu masih ada.
Lingkar semen tuanya terlihat basah terkena embun malam. Pohon mangga di dekatnya bergerak pelan diterpa angin.
Lalu aku sadar sesuatu.
Tutup sumur itu terbuka.