Aku tidak keluar kamar sampai adzan Subuh terdengar dari mushola kampung.
Semalaman aku hanya duduk di tepi ranjang sambil menatap pintu kamar, mendengarkan suara ketukan samar dari arah belakang rumah yang akhirnya hilang menjelang pagi. Entah karena benar-benar berhenti… atau karena aku terlalu lelah untuk terus mendengarnya.
Kabut pagi turun tipis di luar jendela. Cahaya matahari belum benar-benar muncul, tapi ayam-ayam tetangga sudah mulai berisik bersahutan. Udara dingin khas kaki Gunung Ciremai masuk melalui sela jendela yang sedikit terbuka.
Aku mengusap wajah pelan.
Kepalaku terasa berat.
Mimpi semalam masih menempel jelas di ingatan. Sumur tua. Pintu hitam. Dan ibu yang berdzikir seperti seseorang yang sedang mempertaruhkan hidupnya sendiri.
Aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya mimpi.
Tapi ada sesuatu yang terus mengganggu pikiranku.
Kalimat ibu.
Kalau suatu hari nanti ibu enggak ada…
Aku berdiri perlahan lalu berjalan keluar kamar.
Rumah masih sunyi. Lorong tampak pucat terkena cahaya pagi yang masuk dari jendela kecil dekat dapur. Pintu kamar ibu tertutup rapat seperti biasa.
Namun aku sadar satu hal.
Aku tidak berani menatapnya terlalu lama.
—
Pagi itu aku mencoba menyibukkan diri.
Aku tidak ingin terus memikirkan kejadian semalam. Kalau terus mengingat suara-suara itu, aku bisa kehilangan akal.
Ruang tengah tampak berantakan karena kejadian tadi malam. Kursi sedikit bergeser. Gelas air milik Rania masih tergeletak di lantai dekat lorong.
Aku mengambil sapu dan mulai membersihkan rumah.
Suara sapu di lantai kayu sedikit membantu menenangkan pikiranku. Setidaknya ada sesuatu yang bisa kulakukan selain duduk diam sambil menunggu malam datang lagi.
Dari dapur terdengar suara Rania sedang memasak. Sesekali ia melirik ke arahku, tapi tidak banyak bicara sejak kejadian tadi malam.
Aku menggeser sofa tua dekat dinding.
Debu tipis beterbangan.
Lalu sesuatu jatuh pelan dari bawah sofa.
Tak.
Aku berhenti menyapu.
Jantungku langsung berdegup aneh ketika melihat benda itu.
Tasbih kayu milik ibu.
Utuh.
Aku membeku beberapa detik.
Tidak mungkin.
Semalam tasbih itu putus di kamar ibu. Aku ingat jelas suara butiran kayunya berserakan di lantai ketika tubuhku membentur meja kecil.
Aku bahkan melihat sendiri tali tasbihnya terputus.
Tapi sekarang…
tasbih itu ada di bawah sofa ruang tengah.
Utuh seperti tidak pernah rusak sama sekali.
Perlahan aku membungkuk dan mengambilnya.
Tanganku terasa dingin.
Benang pengikatnya masih rapi. Tidak ada simpul baru. Tidak ada bekas putus.
Seolah semalam tidak pernah terjadi apa-apa.
Aku menatap tasbih itu lama sekali.
Perasaan tidak nyaman mulai merayap pelan di dada.
“Aa?”
Aku menoleh cepat.
Rania berdiri di ambang dapur sambil memegang lap kain. Tatapannya langsung jatuh ke tasbih di tanganku.
Dan wajahnya berubah pucat.
“Kamu nemu itu di mana?”
“Di bawah sofa.”
Rania diam.
Terlalu lama.
“Aneh,” kataku pelan. “Semalam ini putus.”
Rania langsung menegang.
“Apa?”