Malam datang terlalu cepat di rumah itu.
Sejak sore tadi, suasana rumah terasa semakin berat. Udara dingin turun lebih awal dari biasanya, membuat halaman rumah dipenuhi kabut tipis bahkan sebelum Maghrib selesai. Pohon mangga tua di belakang rumah bergerak pelan diterpa angin dari arah Gunung Ciremai, menciptakan bayangan panjang yang terus bergoyang di dinding rumah.
Aku duduk sendiri di ruang tengah sambil memandangi tasbih ibu di tanganku.
Utuh.
Padahal aku yakin semalam benda ini putus di kamar ibu.
Semakin kupikirkan, semakin tidak masuk akal semuanya.
Dan yang paling mengganggu adalah sikap ayah.
Ia tahu sesuatu.
Aku bisa melihatnya dari cara ia memandang tasbih itu tadi pagi. Dari cara ia selalu menghindari pembicaraan tentang kamar ibu. Tentang sumur tua. Tentang suara-suara yang muncul setiap malam.
Namun setiap kali aku mencoba bertanya, ia justru semakin tertutup.
Seolah mengatakan kebenaran akan membuat semuanya menjadi lebih buruk.
Aku mengusap wajah pelan.
Di dapur, Rania sedang mencuci piring sambil terus melirik ke arah lorong. Sejak tadi wajahnya terlihat semakin pucat. Bahkan saat makan malam pun ia nyaris tidak menyentuh makanannya.
“Kamu sakit?” tanyaku akhirnya.
Rania tersenyum kecil.
Senang tipis yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya.
“Cuma capek.”
“Kamu enggak tidur lagi semalam?”
Ia diam beberapa detik.
Lalu menggeleng pelan.
Aku menatapnya cukup lama.
Semakin hari, adikku terlihat semakin berbeda dari yang kuingat dulu. Tubuhnya lebih kurus. Matanya cekung. Dan ada sesuatu dalam caranya menatap lorong rumah yang membuatku tidak nyaman.
Seperti seseorang yang selalu menunggu sesuatu muncul dari kegelapan.
“A,” katanya pelan tanpa menatapku, “malam ini jangan tidur dulu.”
Dadaku langsung terasa dingin.
“Kenapa?”
Rania berhenti mencuci piring.
Tangannya gemetar kecil.
“Pokoknya jangan tidur.”
Sebelum aku sempat bertanya lagi, suara pintu kamar ayah terdengar terbuka dari ujung lorong.
Ayah keluar sambil membawa jaket lusuhnya.
“Ayah mau ke mana?” tanyaku.
“Masjid.”
“Malam-malam?”
Ayah hanya mengangguk singkat.
Namun sebelum pergi, ia berhenti di dekatku lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
Kunci.
Kunci kamar ibu.
“Ayah bawa ini,” katanya pelan. “Jangan buka pintu itu apa pun yang terjadi.”
Aku menatap kunci tua itu beberapa detik.
“Ayah…”
Tatapannya langsung menghentikan ucapanku.
Keras.
Lelah.
Dan penuh sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Jangan dibuka,” ulangnya sekali lagi.
Lalu ia pergi meninggalkan rumah.
Pintu depan tertutup pelan.
Dan entah kenapa…
suasana rumah langsung terasa lebih dingin setelah ayah pergi.
—
Menjelang tengah malam, aku memutuskan duduk di depan kamar Rania.
Aku tidak tahu kenapa.
Mungkin karena ucapan Rania tadi sore terus terngiang di kepala.
Malam ini jangan tidur dulu.
Lorong rumah terasa sunyi. Lampu kecil dekat dapur menyala redup kekuningan. Bayangan dinding tampak panjang dan pucat.
Aku duduk bersandar ke tembok sambil memegang ponsel yang layarnya mulai redup karena baterai hampir habis.
Dari kamar Rania tidak terdengar suara apa pun.
Sementara kamar ibu…
tetap diam di ujung lorong.
Pintu kayunya tertutup rapat.
Namun semakin lama aku duduk di sana, semakin terasa aneh.
Rumah ini terlalu sunyi.
Seolah sedang menahan napas.
Jam di ponsel menunjukkan pukul 00.17 ketika suara itu akhirnya muncul.
Pelan.
Sangat pelan.
“…Allahu… Allahu… Allahu…”
Tubuhku langsung menegang.
Suara dzikir.
Dari kamar ibu.