Dzikir yang Tertinggal di Dalam Rumah

Agung Wahyu Prayitno
Chapter #9

KAMAR YANG TERBUKA

Aku tidak tidur sampai Subuh.

Setelah suara kunci itu berhenti, lorong rumah kembali sunyi. Terlalu sunyi. Seolah rumah ini sengaja membiarkan kami mendengar semuanya… lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa setelahnya.

Rania akhirnya sadar beberapa menit kemudian.

Atau setidaknya terlihat sadar.

Ia menangis pelan sambil terus meminta maaf tanpa bisa menjelaskan apa yang sebenarnya ia ingat. Tangannya dingin seperti es ketika kugenggam. Tubuhnya gemetar hebat sampai aku harus menyelimutinya di ruang tengah sambil menunggu ayah pulang dari masjid.

Namun bahkan ketika ayah kembali menjelang Subuh, aku tidak langsung menceritakan semuanya.

Entah kenapa.

Mungkin karena wajah ayah sudah terlihat terlalu lelah bahkan sebelum mendengar apa pun.

Atau mungkin karena sebagian diriku mulai takut pada jawaban yang mungkin akan keluar dari mulutnya.

Pagi itu berlalu lambat.

Kabut masih menggantung di halaman rumah ketika matahari mulai naik. Udara dingin khas kaki Gunung Ciremai menyusup melalui celah jendela kayu yang mulai lapuk dimakan usia.

Rania tidur sejak pagi di kamarnya. Wajahnya terlihat pucat dan kelelahan. Ayah juga tidak banyak bicara setelah mendengar bahwa Rania kembali berjalan dalam tidur.

Ia hanya duduk lama di teras sambil merokok dalam diam.

Sementara aku…

aku tidak bisa berhenti memikirkan suara kunci itu.

Klik.

Klik.

Diputar dari dalam.

Padahal kunci kamar ibu ada di tangan ayah.

Logikaku terus mencoba mencari penjelasan. Mungkin suara kayu. Mungkin hanya perasaanku karena terlalu tegang.

Namun semakin kupikirkan, semakin aku sadar—

aku tahu persis bunyi kunci yang diputar.

Dan semalam aku mendengarnya dengan jelas.

Menjelang siang rumah terasa lebih sepi dari biasanya.

Ayah pergi ke belakang rumah sejak tadi pagi. Katanya ingin membersihkan kebun kecil dekat sumur tua. Aku sempat ingin ikut, tapi entah kenapa langkahku berhenti begitu melihat lorong menuju belakang rumah.

Mimpi itu kembali muncul di kepalaku.

Sumur tua.

Pintu hitam.

Dan ibu yang duduk berdzikir di depannya.

Aku mengusap wajah lalu mencoba mengalihkan pikiran dengan membereskan ruang tengah.

Namun percuma.

Tatapanku terus tertarik ke arah kamar ibu.

Pintu itu masih tertutup.

Diam.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Aku baru menyadarinya beberapa menit kemudian.

Pintunya tidak benar-benar rapat.

Ada celah kecil.

Sangat kecil.

Namun cukup jelas untuk membuat tengkukku dingin.

Aku berdiri perlahan.

Jantung mulai berdetak lebih cepat.

Tidak mungkin.

Semalam pintu itu terkunci.

Aku bahkan mendengar sendiri suara kuncinya diputar dari dalam.

Langkahku bergerak mendekat tanpa sadar.

Lantai kayu berderit pelan di bawah kakiku. Semakin dekat ke kamar itu, udara terasa semakin dingin.

Dan aroma itu mulai tercium lagi.

Melati.

Pekat.

Terlalu pekat.

Bukan seperti parfum atau bunga biasa.

Melainkan aroma melati yang bercampur sesuatu yang dingin dan lembap, seperti udara setelah hujan malam.

Aku berhenti tepat di depan pintu kamar ibu.

Dadaku terasa sesak.

Celah pintu itu tampak gelap.

Sunyi.

Tidak ada suara apa pun dari dalam.

Tanganku bergerak pelan menyentuh gagang pintu.

Dingin.

Sangat dingin.

Aku menelan ludah.

Lalu perlahan mendorongnya.

Kreeek…

Lihat selengkapnya