Dzikir yang Tertinggal di Dalam Rumah

Agung Wahyu Prayitno
Chapter #10

KITAB TUA

Aku tidak bisa melupakan bayangan di cermin itu.

Bahkan setelah keluar dari kamar ibu, bahkan setelah mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanya efek kelelahan dan ketakutan, bayangan perempuan yang duduk di atas ranjang itu terus muncul di kepalaku.

Terlalu nyata.

Terlalu diam.

Dan yang paling mengganggu—

aku merasa sosok itu sengaja membiarkanku melihatnya.

Malam turun perlahan di rumah itu.

Kabut mulai kembali memenuhi halaman sejak Maghrib. Lampu-lampu rumah tetangga di kejauhan terlihat samar tertutup udara dingin khas kaki Gunung Ciremai. Dari mushola kampung terdengar suara pengajian anak-anak yang sesekali terbawa angin malam.

Namun di dalam rumah kami…

suasana terasa berbeda.

Lebih berat.

Seolah sejak kamar ibu terbuka tadi siang, sesuatu ikut terbangun bersama aroma melati yang keluar dari sana.

Rania tidak keluar kamar setelah Maghrib. Ayah juga semakin banyak diam. Ia hanya duduk di ruang depan sambil membaca koran lama tanpa benar-benar membalik halaman.

Sementara aku…

aku tidak bisa berhenti memikirkan satu hal.

Kalau kamar itu memang menyimpan sesuatu, ibu pasti tahu.

Dan kalau ibu tahu…

mungkin ia meninggalkan jawaban di sana.

Aku masuk kembali ke kamar ibu setelah Isya.

Sendirian.

Lorong rumah terasa lebih dingin malam itu. Lampu kecil di dekat dapur berkedip pelan beberapa kali ketika aku melewatinya.

Pintu kamar ibu masih tertutup.

Namun kali ini tidak terkunci.

Aku menarik napas panjang lalu mendorongnya perlahan.

Kreeek…

Aroma melati langsung menyambutku lagi.

Pekat.

Dingin.

Ruangan itu masih sama seperti siang tadi. Terlalu rapi. Terlalu hidup untuk kamar seseorang yang sudah lama ditinggalkan.

Aku melangkah masuk perlahan.

Lantai kayu berderit kecil di bawah kakiku.

Tatapanku bergerak ke sajadah hijau tua di samping ranjang.

Entah kenapa, sejak tadi aku terus memikirkan sajadah itu.

Aku duduk jongkok perlahan di dekatnya.

Tanganku menyentuh permukaan kain yang mulai kasar dimakan usia.

Dingin.

Dan ketika sajadah itu kuangkat sedikit—

dadaku langsung menegang.

Ada sesuatu di bawahnya.

Buku.

Tebal.

Bersampul kulit cokelat tua yang sudah mengelupas di bagian pinggir.

Aku membeku beberapa detik sebelum akhirnya mengambil benda itu perlahan.

Debu tipis beterbangan saat kuangkat.

Kitab tua.

Tanganku gemetar kecil ketika membukanya.

Halaman-halamannya sudah menguning dan berbau lembap. Tulisan Arab memenuhi sebagian besar isi kitab. Doa-doa. Dzikir. Potongan ayat.

Namun bukan itu yang membuatku merinding.

Di beberapa halaman…

ada sisipan kertas kecil.

Catatan tangan ibu.

Aku langsung mengenali tulisan itu.

Rapi.

Tipis.

Sedikit miring ke kanan.

Napasmu mulai terasa berat.

Perlahan aku membuka salah satu sisipan pertama.

“Jangan biarkan rumah kosong selepas Maghrib terlalu lama.”

Tanganku berhenti.

Aku membuka halaman berikutnya.

“Suara yang meniru bukan selalu suara mereka.”

Dadaku langsung dingin.

Aku membaca lebih cepat sekarang.

Beberapa halaman dipenuhi doa-doa panjang. Namun di sela-selanya, ibu menulis catatan kecil menggunakan tinta hitam yang mulai memudar.

“Ia mulai belajar dari ingatan.”


“Jangan menjawab panggilan jika suara terdengar dari belakang rumah setelah tengah malam.”


“Rania mulai mendengarnya sejak usia tujuh tahun.”


Aku langsung mengangkat kepala.

Lihat selengkapnya