Dzikir yang Tertinggal di Dalam Rumah

Agung Wahyu Prayitno
Chapter #11

TULISAN IBU

Aku tidak ingat bagaimana keluar dari kamar itu.

Yang kuingat hanya suara napasku sendiri yang kacau saat berlari meninggalkan kamar ibu sambil menggenggam kitab tua itu erat-erat di dada. Lorong rumah terasa gelap dan sempit. Lampu kecil dekat dapur berkedip pelan seperti hampir mati.

Dan di belakangku—

aku terus merasa ada sesuatu yang mengikuti.

Bukan langkah.

Bukan bayangan.

Melainkan perasaan sedang diperhatikan oleh sesuatu yang diam… tapi sadar penuh terhadap ketakutanku.

Aku baru berhenti ketika sampai di kamar sendiri.

Brak!

Pintu langsung kututup dan kukunci.

Dadaku naik turun tidak karuan. Tangan gemetar hebat sampai kitab tua itu hampir terjatuh ke lantai.

Aku bersandar ke pintu sambil mencoba mengatur napas.

Namun suara itu masih terngiang jelas di telingaku.

“Daris…”

Suara ibu.

Persis.

Terlalu persis.

Aku memejamkan mata keras-keras.

Tidak.

Bukan ibu.

Aku mulai menyadari sesuatu yang mengerikan sejak menemukan catatan-catatan itu—

sesuatu di rumah ini tidak sekadar muncul.

Ia mempelajari kami.

Mempelajari suara.

Ingatan.

Kerinduan.

Lalu menggunakan semuanya untuk mendekat.

Dan yang paling berbahaya…

aku mulai sulit membedakan mana kenangan tentang ibu, dan mana yang sebenarnya bukan dirinya.

Malam semakin larut.

Angin dingin dari luar membuat jendela kamar bergetar pelan. Dari kejauhan terdengar anjing menggonggong samar di ujung kampung.

Aku duduk di lantai bersandar ke ranjang sambil membuka kembali kitab tua itu.

Tanganku masih gemetar.

Namun kali ini aku memaksa diri membaca lebih pelan.

Lebih teliti.

Di sela halaman doa-doa dan catatan tentang rumah, ternyata ada beberapa lembar lain yang diselipkan di bagian belakang kitab.

Bukan catatan pendek seperti sebelumnya.

Melainkan tulisan panjang.

Hampir seperti diary.

Tulisan tangan ibu.

Dadaku langsung terasa berat melihatnya.

Sudah lama sekali aku tidak melihat tulisan ibu sebanyak ini.

Perlahan aku membuka lembar pertama.

Tanggal di pojok atas sudah memudar, tapi masih terbaca samar.

Tahun 2003.

Aku menelan ludah pelan lalu mulai membaca.


“Malam ini suara itu kembali datang dari belakang rumah.”


“Daris masih kecil dan belum mengerti kenapa ibu melarangnya keluar selepas Maghrib.”


“Kadang ibu kasihan melihat ia terus bertanya kenapa rumah ini harus selalu dipenuhi dzikir.”


Tanganku berhenti sejenak.

Aku masih ingat masa itu.

Aku sering kesal karena ibu terlalu banyak melarang.

Tidak boleh keluar malam.

Tidak boleh bermain dekat sumur belakang.

Tidak boleh tidur tanpa doa.

Dulu aku pikir ibu hanya terlalu religius.

Ternyata…

ada alasan lain di balik semua itu.

Aku melanjutkan membaca.


“Dzikir ini bukan lagi sekedar untuk menenangkan hati.”


Napasmu tercekat.

Aku membaca kalimat berikutnya lebih pelan.


“Dzikir ini untuk menjaga agar suara-suara dari luar tidak masuk ke dalam mimpi anak-anakku.”

Lihat selengkapnya