Hujan turun sejak sore.
Rintiknya pelan, tapi terus-menerus membasahi atap rumah tua itu hingga suara tetesannya terdengar seperti bisikan panjang yang tidak pernah selesai. Kabut turun lebih cepat dari biasanya di kaki Gunung Ciremai. Udara dingin memenuhi rumah sampai ke sela-sela dinding kayu yang mulai lapuk.
Aku tidak bisa tidur lagi setelah membaca tulisan ibu semalam.
Setiap kali memejamkan mata, aku terus teringat satu kalimat itu:
Dzikir ini bukan lagi untuk menenangkan hati.
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, aku mulai melihat ibu bukan sebagai perempuan yang tenggelam dalam ketakutan… melainkan seseorang yang kelelahan menjaga sesuatu sendirian selama bertahun-tahun.
Dan entah kenapa, sejak membaca diary itu, rumah terasa berbeda.
Lebih hidup.
Seolah sesuatu sadar bahwa aku mulai mengetahui terlalu banyak.
—
Menjelang Maghrib, listrik sempat padam beberapa menit.
Rumah langsung tenggelam dalam gelap dan suara hujan. Tidak ada televisi. Tidak ada suara kendaraan. Hanya suara angin dan kayu rumah yang sesekali berbunyi pelan.
Aku berdiri di ruang tengah sambil memandangi langit di luar jendela.
Gelap.
Persis seperti malam-malam waktu aku kecil dulu.
Dan tanpa sadar…
ingatan lama mulai muncul lagi.
Tahun 1998.
Aku belum genap sepuluh tahun.
Waktu itu listrik juga sering mati mendadak.
Orang-orang menyebutnya “lampu mati bergilir”, tapi anak-anak kampung tahu ada alasan lain di balik gelap yang sengaja dibiarkan terlalu lama.
Karena malam-malam waktu itu…
semua orang sedang takut.
—
“Jangan keluar rumah!”
Suara ibu terngiang jelas di kepalaku.
Aku kecil berdiri di dekat jendela sambil melihat jalan desa yang gelap gulita. Tidak ada lampu rumah yang menyala terang. Bahkan warung dekat mushola menutup pintunya lebih cepat.
Dari radio tua di ruang tengah terdengar suara penyiar dengan nada tegang.
"Kerusuhan kembali pecah di Jakarta… situasi Reformasi semakin tidak terkendali…"
Aku tidak benar-benar mengerti apa itu Reformasi waktu itu.
Aku hanya tahu orang-orang dewasa mulai sering berbisik pelan ketika menyebut Jakarta.
Ayah pulang malam itu membawa dua karung beras kecil dan minyak tanah.
Wajahnya tegang.
“Ibu-ibu tadi sampai berantem di pasar,” katanya pada ibu. “Harga naik lagi.”
Ibu diam sambil memeluk Rania yang masih balita.
“Kalau begini terus bisa rusuh sampai sini,” lanjut ayah pelan.
Aku masih ingat wajah orang-orang waktu itu.
Capek.
Marah.
Takut.
Di kampung kami di Kabupaten Kuningan, warga mulai mengantre sembako sejak subuh. Minyak tanah jadi barang mewah. Harga beras naik hampir tiap minggu.
Beberapa tetangga mulai menyembelih ayam dan kambing lebih cepat karena takut nanti dijarah kalau keadaan semakin kacau.
Orang-orang menyebutnya Krisis Moneter.
Tapi buat anak kecil sepertiku waktu itu…
yang terasa hanyalah suasana mencekam yang perlahan masuk sampai ke dalam rumah.
—
Petir menyambar di luar.
Aku tersentak kecil.
Lampu rumah kembali menyala pelan setelah listrik hidup lagi.
Namun ingatan itu belum hilang.
Justru semakin jelas.
Aku berjalan tanpa sadar menuju gudang kecil dekat dapur.
Entah kenapa aku merasa harus mencari sesuatu.
Pikiranku terus dipenuhi potongan-potongan masa kecil yang selama ini terkubur.
Gudang itu lembap dan berbau kayu basah. Kardus-kardus tua bertumpuk di sudut ruangan. Beberapa peralatan rusak ditutupi kain lusuh penuh debu.
Di atas lemari tua, ada tangga kecil menuju loteng rumah.