Hujan belum berhenti sampai malam.
Air terus menetes dari ujung genting rumah dengan ritme pelan yang membuat suasana terasa semakin muram. Kabut turun lebih tebal dari biasanya di kaki Gunung Ciremai. Pohon mangga tua di halaman hanya tampak seperti bayangan hitam di balik jendela.
Aku masih memegang kliping koran dari loteng ketika turun ke ruang tengah.
Pikiranku kacau.
Potongan-potongan ingatan tentang tahun 1998 terus bermunculan tanpa bisa kutahan. Wajah warga kampung yang ketakutan. Ayah ronda membawa celurit. Rumah-rumah yang sengaja dimatikan lampunya.
Dan sekarang…
catatan ibu.
Tentang suara-suara.
Tentang sesuatu yang belajar meniru manusia.
Semua terasa mulai saling terhubung.
Ayah duduk sendiri di ruang depan sambil menatap hujan. Rokok di tangannya tinggal separuh. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya yang terlihat jauh lebih tua dibanding yang kuingat.
Aku berdiri beberapa detik memperhatikannya.
Lalu berjalan mendekat.
“Ayah.”
Ia menoleh pelan.
Tatapannya langsung jatuh pada bundelan koran tua di tanganku.
Dan untuk sepersekian detik—
aku melihat sesuatu di wajahnya.
Kaget.
Namun cepat sekali disembunyikan.
“Kamu naik ke loteng?” tanyanya datar.
Aku tidak langsung duduk.
“Kenapa rumah ini jadi begini?”
Ayah diam.
Suara hujan memenuhi jeda di antara kami.
“Aku nemu catatan ibu,” lanjutku. “Tentang rumah ini. Tentang suara-suara itu.”
Raut di wajah ayah mengeras sedikit.
“Jangan baca terlalu jauh.”
Kalimat itu langsung membuat emosiku naik.
“Jangan baca terlalu jauh?” aku tertawa kecil. “Hampir tiap malam aku dengar suara aneh di rumah ini. Rania jalan sambil tidur. Ibu seperti hidup bertahun-tahun dalam ketakutan. Dan ayah masih bilang jangan baca terlalu jauh?”
Ayah memalingkan wajah ke luar jendela.
Tangannya mengepal kecil.
“Ada hal-hal yang lebih baik enggak kamu tahu.”
“Aku udah tahu.”
Suasana langsung terasa berat.
Lampu ruang tengah berkedip sekali.
Aku menarik salah satu kliping koran lalu melemparkannya ke meja.
“Ini semua dimulai sejak tahun sembilan delapan, kan?”
Tatapan ayah langsung berubah.
Dan saat itulah aku tahu—
aku benar.
—
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
Hanya suara hujan dan detak jam tua di dinding.
Aku menatap ayah tajam.
“Ayah, apa yang sebenarnya terjadi waktu itu?”
Ayah mengembuskan napas panjang.
Tubuhnya tampak lelah sekali malam itu.
“Orang-orang takut,” katanya akhirnya pelan.
“Semua orang takut.”
Aku tetap diam menunggu.
Dan perlahan…
ayah mulai bicara seperti seseorang yang sebenarnya sudah lama ingin melupakan semuanya.
—
“Tahun itu semua kacau,” katanya lirih.
“Harga naik tiap minggu. Orang mulai rebutan beras. Banyak desa mulai dijarah.”
Aku masih ingat sedikit tentang itu.
Namun mendengar langsung dari ayah terasa berbeda.
“Radio tiap hari ngomongin kerusuhan,” lanjutnya. “Jakarta panas. Kota-kota lain mulai ikut rusuh. Orang-orang di kampung mulai paranoid.”
Ayah mematikan rokoknya perlahan.
“Terus muncul isu Ninja.”
Aku mengangguk kecil.
Wajah ayah mengeras.
“Warga mulai ronda tiap malam. Semua orang curiga sama orang asing.”
Ia menatap hujan cukup lama sebelum melanjutkan.
“Waktu itu ada kabar massa mulai bergerak. Katanya mereka nyari rumah-rumah orang kaya. Rumah yang dianggap punya simpanan beras.”
Dadaku terasa dingin.
“Makanya ayah nulis MILIK HAJI di pintu?”
Ayah mengangguk pelan.
“Biar rumah ini kelihatan ‘punya orang pribumi’.”
Aku terdiam.
Ternyata rasa takut benar-benar bisa membuat manusia melakukan apa saja.
Namun itu belum menjawab pertanyaan terbesarku.
Aku menatap ayah lebih tajam.
“Terus apa hubungannya sama rumah ini?”
Ayah langsung diam lagi.
Dan keheningan itu justru membuat dadaku semakin sesak.