Dzikir yang Tertinggal di Dalam Rumah

Agung Wahyu Prayitno
Chapter #14

SUARA YANG MEMANGGIL NAMA

Hujan berhenti menjelang tengah malam.

Namun rumah itu justru terasa lebih sunyi setelahnya.

Tidak ada suara air. Tidak ada desir angin keras. Hanya bunyi tetesan dari ujung atap dan suara jam tua di ruang tengah yang berdetak pelan seperti menghitung sesuatu yang tidak terlihat.

Aku masih berdiri di dekat meja ketika pintu kamar ibu terbuka sendiri.

Kreeeek…

Gelap di dalamnya tampak pekat dan dingin. Tidak ada cahaya sedikit pun dari sana.

Lalu suara itu kembali terdengar.

“Pak…”

Persis suara ibu.

Ayah langsung membeku di tempatnya.

Aku bisa melihat jemarinya gemetar kecil.

Suara itu terdengar lagi.

Lebih pelan.

Lebih dekat.

“Pak Hadi…”

Dadaku langsung terasa dingin.

Ada sesuatu yang salah dengan cara suara itu menyebut nama ayah.

Terlalu lembut.

Terlalu hati-hati.

Seperti seseorang yang sedang mencoba mengingat bagaimana manusia berbicara.

Ayah menunduk cepat.

Bibirnya mulai komat-kamit membaca istighfar.

Dan saat itulah aku sadar—

ayah takut mendengar suara ibu lebih dari siapa pun di rumah ini.

Lampu ruang tengah kembali berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu padam.

Rumah langsung tenggelam dalam gelap.

Rania menjerit kecil dari kamarnya.

“Aa!”

Aku langsung bergerak cepat ke arah suara itu sementara ayah sibuk mencari senter di meja.

Lorong rumah terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya. Kakiku nyaris terpeleset di lantai kayu yang lembap.

“Rania!”

Aku membuka pintu kamarnya cepat.

Rania duduk di sudut ranjang sambil memeluk lutut. Wajahnya pucat. Napasnya memburu.

“Dia manggil aku lagi…” bisiknya gemetar.

Aku langsung mendekat.

“Siapa?”

Rania menatap pintu kamar dengan mata berkaca-kaca.

“Ibu…”

Dadaku terasa sesak.

“Apa yang dia bilang?”

Rania menggeleng cepat.

Namun beberapa detik kemudian ia berkata pelan:

“Dia tahu waktu aku kecil jatuh di sumur belakang.”

Tubuhku langsung membeku.

Aku tidak pernah mengingat kejadian itu selama bertahun-tahun.

Rania jatuh saat umur lima tahun. Kakinya terpeleset dekat sumur tua belakang rumah. Waktu itu ibu histeris memanggil tetangga untuk membantu mengangkatnya.

Tidak banyak orang tahu kejadian itu.

Dan sekarang…

sesuatu itu menggunakannya.

Listrik menyala kembali beberapa menit kemudian.

Namun tidak ada seorang pun yang merasa lega.

Ayah mengunci pintu depan dan semua jendela malam itu. Bahkan mushaf Al-Qur’an di ruang tengah diletakkan terbuka seperti seseorang sedang mencoba mempertahankan sesuatu agar tidak masuk lebih jauh.

Aku duduk di depan kamar Rania sambil berjaga.

Sementara ayah hanya diam di ruang tengah dengan wajah tegang.

Dan sejak percakapan malam tadi…

aku mulai melihat ayah secara berbeda.

Ia bukan hanya menyembunyikan rahasia.

Ia hidup bersama rasa bersalah selama bertahun-tahun.

Jam menunjukkan pukul satu dini hari ketika suara itu kembali muncul.

Awalnya samar.

Seperti bisikan dari kejauhan.

“…Daris…”

Aku langsung mengangkat kepala.

Sunyi.

Lihat selengkapnya