Aku tidak tahu kapan akhirnya tertidur.
Mungkin menjelang Subuh. Mungkin sesaat setelah ayah memaksa kami masuk kembali ke rumah dan mengunci semua pintu sambil membaca ayat-ayat dengan suara gemetar.
Namun bahkan tidur pun tidak terasa seperti tidur.
Aku terus bermimpi tentang suara air.
Tentang sumur tua.
Tentang seseorang yang berdiri di dasar kegelapan sambil mendongak ke atas.
Menungguku.
—
Aku terbangun mendadak.
Dadaku sesak.
Ruangan masih gelap kebiruan. Cahaya Subuh belum benar-benar muncul dari balik jendela.
Butuh beberapa detik sampai aku sadar sesuatu terasa aneh.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Biasanya rumah tua itu selalu mengeluarkan suara kecil saat malam menjelang pagi. Derit kayu. Angin. Suara ayam tetangga dari kejauhan.
Namun pagi ini…
tidak ada apa-apa.
Aku duduk perlahan di tepi ranjang sambil mengusap wajah.
Kepalaku masih berat karena kurang tidur.
Lalu terdengar suara pintu kamar berderit pelan dari lorong.
Kreeek…
Aku langsung menoleh.
Sunyi lagi.
Entah kenapa jantungku mulai berdetak lebih cepat.
Aku berdiri dan membuka pintu kamar perlahan.
Lorong rumah tampak kosong.
Lampu kecil dekat dapur masih menyala redup kekuningan. Udara dingin Subuh merayap masuk melalui celah-celah jendela kayu.
Dan saat itulah aku sadar—
pintu kamar Rania terbuka sedikit.
Dadaku langsung terasa tidak enak.
“Rania?”
Tidak ada jawaban.
Aku berjalan cepat mendekat lalu mendorong pintunya.
Kreeek…
Kosong.
Ranjang Rania berantakan, tapi tidak ada siapa-siapa di sana.
Selimutnya jatuh setengah ke lantai seperti ditinggalkan tergesa-gesa.
“Rania?”
Nada suaraku mulai berubah panik.
Aku memeriksa kamar mandi.
Kosong.
Dapur.
Kosong.
Ruang tengah.
Tidak ada.
Dadaku mulai dipenuhi rasa dingin yang tidak bisa dijelaskan.
“Ayah!”
Suaraku menggema di rumah.
Beberapa detik kemudian pintu kamar ayah terbuka keras.
Ayah keluar dengan wajah pucat dan mata masih setengah sadar.
“Ada apa?”
“Rania enggak ada.”
Wajah ayah langsung berubah.
“Apa?”
“Aku cari ke mana-mana enggak ada!”
Kami langsung berpencar mencari ke seluruh rumah.
Gudang.
Teras.
Ruang belakang.
Namun semakin lama mencari, perasaan buruk dalam dadaku semakin besar.
Karena rumah itu terlalu sunyi.
Seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
—
Aku berhenti mendadak di dekat dapur.
Lantai kayu di sana terlihat kotor.
Bukan debu.
Tanah.
Basah.
Dadaku langsung menegang.
Aku jongkok perlahan.
Jejak kaki.
Kecil.