Pagi itu tidak pernah benar-benar terasa seperti pagi.
Langit di luar rumah memang mulai terang, tetapi cahaya matahari tidak masuk sepenuhnya ke dalam rumah tua itu. Kabut masih menggantung di halaman belakang, menempel di pohon-pohon dan pagar kayu seperti sesuatu yang enggan pergi.
Rania akhirnya tertidur setelah ayah membacakan ayat-ayat di ruang tengah.
Namun tidurnya tidak tenang.
Beberapa kali tubuhnya bergerak kecil sambil mengigau pelan.
Kadang ia memanggil ibu.
Kadang berbisik sesuatu yang tidak kami mengerti.
Ayah duduk di dekatnya sejak tadi tanpa banyak bicara. Wajahnya tampak semakin tua pagi itu.
Sementara aku…
aku tidak bisa tenang.
Suara dari sumur tadi masih terngiang di kepalaku.
Benturan dari dalam kegelapan.
Dan tawa banyak suara yang bercampur menjadi satu.
Aku berdiri di dekat jendela ruang tengah sambil memandangi halaman belakang yang samar tertutup kabut.
Lalu aku menyadari sesuatu.
Pintu kamar ibu terbuka sedikit.
Padahal aku yakin tadi malam ayah menutupnya rapat.
Dadaku langsung terasa dingin.
“Ayah…”
Ayah menoleh pelan.
Aku menunjuk lorong.
Tatapannya langsung berubah tegang.
Beberapa detik kami hanya diam mendengarkan.
Sunyi.
Namun kemudian—
kreeeek…
Suara kayu berderit terdengar dari dalam lorong.
Pelan.
Panjang.
Seperti seseorang sedang berjalan perlahan di atas lantai tua.
Ayah langsung berdiri.
“Jangan sendiri,” katanya lirih.
Aku mengangguk.
Kami berjalan bersamaan menuju lorong rumah.
Semakin mendekat ke kamar ibu, udara terasa semakin dingin. Aroma melati samar kembali tercium di antara bau kayu tua dan tembok lembap.
Dan entah kenapa…
lorong itu terasa lebih panjang dibanding biasanya.
Aku sempat berhenti.
“Ayah…”
“Apa?”
“Lorong ini…”
Kalimatku menggantung.
Karena aku sendiri tidak yakin bagaimana menjelaskannya.
Biasanya dari ruang tengah ke kamar ibu hanya beberapa langkah.
Namun sekarang…
rasanya seperti kami sudah berjalan jauh lebih lama.
Lampu kecil di ujung lorong berkedip pelan.
Bayangan kami memanjang aneh di dinding.
Kreeeek…
Suara derit terdengar lagi.
Namun kali ini bukan dari lantai.
Melainkan dari dinding rumah.
Dan suara itu…
terdengar seperti napas.
Panjang.
Berat.
Tersengal.
Aku langsung merinding.
Ayah berhenti berjalan.
Aku bisa melihat jemarinya mulai gemetar kecil.
"Ayah denger?” tanyaku pelan.
Ayah tidak menjawab.
Namun wajahnya sudah cukup memberi jawaban.
Suara itu muncul lagi.
Hhhhhhh…
Kreeeek…
Hhhhhhh…
Kayu-kayu rumah seperti bergerak pelan mengikuti irama napas sesuatu yang sangat besar.
Aku menoleh cepat ke sekitar.
Dinding rumah tampak normal.
Namun ada sensasi aneh yang sulit dijelaskan.
Seolah rumah ini hidup.
Seolah seluruh bangunan tua ini sedang memperhatikan kami.
—
Kami akhirnya sampai di depan kamar ibu.
Pintunya terbuka sedikit.
Gelap di dalamnya tampak pekat meski hari mulai siang.
Ayah membaca ayat pelan sebelum mendorong pintu perlahan.
Kreeek…