Lorong rumah akhirnya kembali normal.
Atau setidaknya terlihat normal.
Setelah lampu menyala kembali, panjang lorong itu perlahan kembali seperti semula. Suara napas dari dalam dinding menghilang sedikit demi sedikit, menyisakan derit kayu biasa yang terdengar jauh lebih manusiawi dibanding sebelumnya.
Namun tidak ada satu pun dari kami yang benar-benar merasa aman.
Aku masih bisa merasakan sensasi aneh itu menempel di kulitku—perasaan bahwa rumah ini sedang memperhatikan.
Menunggu.
Rania duduk diam di ruang tengah sambil memeluk lutut. Wajahnya pucat dan matanya kosong seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk panjang.
Ayah sibuk membaca ayat pelan sejak tadi.
Aku sendiri berdiri dekat jendela sambil mencoba mengatur napas.
Namun semakin lama, pikiranku justru semakin kacau.
Rumah itu berubah.
Suara-suara itu berubah.
Dan sesuatu di dalam sini…
sedang belajar.
—
“Aa…”
Suara Rania terdengar kecil dari belakangku.
Aku menoleh cepat.
Ia masih duduk di sofa.
“Aku haus,” katanya lirih.
Aku mengangguk pelan. “Tunggu.”
Aku berjalan ke dapur mengambil air minum sementara ayah tetap duduk di ruang tengah.
Hanya beberapa menit.
Tidak lebih.
Namun saat aku kembali membawa gelas—
sofa itu kosong.
Dadaku langsung terasa dingin.
“Rania?”
Tidak ada jawaban.
Ayah langsung berdiri cepat.
“Mana Rania?”
“Aku enggak tahu— tadi masih di sini!”
Kami langsung mencari ke seluruh ruangan.
Kamar mandi.
Lorong.
Kamar.
Kosong.
Dan ketika aku melihat ke arah dapur—
pintu belakang rumah terbuka.
Perlahan.
Bergoyang kecil diterpa angin pagi.
Dadaku langsung jatuh.
“Ayah…”
Ayah menoleh.
Wajahnya langsung pucat.
Kabut pagi masih tebal di luar rumah. Udara dingin masuk perlahan dari pintu belakang membawa aroma tanah basah dan daun lembap.
Dan entah kenapa—
aku sudah tahu ke mana Rania pergi.
—
Kami berlari ke halaman belakang.
Rumput masih dipenuhi embun. Pohon-pohon tampak samar di balik kabut putih yang turun rendah menutupi tanah.
Sumur tua berdiri diam di ujung halaman.
Dan di sana—
Rania berdiri membelakangi kami.
Diam.
Tidak bergerak.
Kakinya berada sangat dekat dengan bibir sumur.
“Astaghfirullah…”
Ayah langsung membaca ayat lebih keras.
Namun Rania tidak bereaksi.
Ia hanya berdiri sambil sedikit menundukkan kepala.
Seolah sedang mendengarkan seseorang berbicara dari bawah.
“Aa…”
Suara pelan terdengar dari arah sumur.
Aku langsung membeku.
Suara ibu.
Lembut.
Hangat.
Membaca dzikir dengan suara pelan seperti dulu saat menjelang Subuh.
“…Allahu… Allahu…”
Dadaku langsung menegang.
Untuk beberapa detik…
aku hampir percaya itu benar-benar ibu.
Kabut pagi. Suara dzikir. Halaman belakang rumah.