Pintu belakang ditutup rapat.
Ayah bahkan menambahkan rantai besi tua yang biasanya dipakai untuk gudang. Tangannya gemetar sedikit saat menguncinya, sementara dari luar rumah suara angin terus bergesekan dengan pohon-pohon basah di halaman.
Rania duduk lemas di kursi ruang tengah.
Matanya kosong.
Bibirnya masih bergerak kecil seperti seseorang yang sedang mendengarkan suara yang sangat jauh.
Aku jongkok di depannya.
“Rania.”
Ia tidak langsung menjawab.
Aku memegang bahunya perlahan.
“Kamu dengar aku?”
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengangguk kecil.
Namun tatapannya masih terasa aneh.
Seperti belum sepenuhnya kembali.
“Aku tadi lihat ibu…” bisiknya lirih.
Dadaku langsung menegang.
“Itu bukan ibu.”
Rania menunduk pelan.
“Aku tahu…”
Suaranya pecah.
“Tapi suaranya bikin aku ingin ikut.”
Ruangan langsung sunyi setelah itu.
Tidak ada seorang pun yang bicara.
Karena kami semua tahu—
itulah bagian paling mengerikan dari makhluk itu.
Ia tidak memaksa.
Ia membujuk.
—
Menjelang malam, rumah kembali terasa aneh.
Bukan karena suara-suara.
Bukan juga karena sumur.
Melainkan karena rumah itu sendiri.
Dinding kayu kadang bergetar sangat pelan seperti denyut nadi. Langit-langit mengeluarkan suara retakan kecil yang terdengar seperti tarikan napas panjang.
Hhhhhhh…
Kreeeek…
Hhhhhhh…
Aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya suara rumah tua biasa.
Namun tubuhku tahu ada sesuatu yang salah.
Rumah ini terasa hidup.
Dan semakin malam…
semakin jelas perasaan itu.
—
“Aa…”
Rania berdiri di dekat tangga lorong sambil memeluk dirinya sendiri.
“Aku takut tidur sendiri.”
Aku mengangguk pelan.
“Nanti aku jagain.”
Ayah sudah masuk ke kamar sejak Maghrib tadi. Bukan untuk tidur, kurasa. Dari balik pintu kamarnya aku terus mendengar suara ayat dibaca pelan tanpa henti.
Seolah ia tahu malam ini akan lebih buruk.
Lampu rumah mulai berkedip lagi sekitar pukul sembilan malam.
Tidak padam total.
Hanya berkedip pelan seperti seseorang sedang memainkan saklarnya dari tempat lain.
Lorong rumah terlihat remang-remang.
Bayangan dinding bergerak samar mengikuti cahaya yang tidak stabil.
Aku berjalan bersama Rania menuju kamarnya.
Dan saat itulah aku melewati cermin tua di lorong.
Cermin itu sudah ada sejak aku kecil.
Bingkainya kayu hitam dengan ukiran bunga yang mulai lapuk dimakan usia. Ibu dulu sering membersihkannya tiap pagi.
Aku hampir melewatinya begitu saja.
Namun sesuatu membuat langkahku berhenti.
Aku melihat pantulan diriku di sana.
Normal.
Aku berdiri di lorong bersama Rania.
Lampu berkedip pelan di atas kepala kami.
Namun beberapa detik kemudian—
dadaku langsung terasa dingin.
Karena di pantulan cermin…
ada diriku yang lain.
Berdiri beberapa langkah di belakangku.