Dzikir yang Tertinggal di Dalam Rumah

Agung Wahyu Prayitno
Chapter #19

MASA LALU TERUNGKAP


Subuh datang tanpa ketenangan.

Langit di luar rumah tampak pucat keabu-abuan, sementara kabut masih menggantung rendah di halaman belakang seperti sesuatu yang belum selesai.

Aku tidak tidur sama sekali malam itu.

Bayangan di cermin masih terus muncul di kepalaku. Senyum yang terlalu lebar. Gerakan yang terlambat. Dan perasaan mengerikan bahwa sesuatu di rumah ini sedang mencoba menjadi diriku.

Aku duduk di ruang tengah sambil menatap lantai kayu yang lembap.

Sementara di kamar sebelah, Rania masih tidur dengan napas gelisah.

Sesekali ia mengigau pelan.

Kadang menyebut nama ibu.

Kadang menangis tanpa membuka mata.

Ayah keluar dari kamarnya setelah azan Subuh.

Wajahnya terlihat jauh lebih pucat dibanding biasanya. Matanya merah seperti seseorang yang tidak benar-benar tidur selama bertahun-tahun.

Ia berhenti saat melihatku masih terjaga.

“Kamu belum tidur?”

Aku menggeleng pelan.

Ayah tidak berkata apa-apa lagi.

Namun kali ini aku melihat sesuatu di matanya.

Bukan sekadar takut.

Melainkan kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama menyimpan sesuatu sendirian.

Pagi itu rumah terasa lebih dingin dibanding biasanya.

Bahkan teh panas yang dibuat ayah tidak benar-benar membantu menghangatkan tubuh.

Kami duduk berhadapan di meja makan tanpa banyak bicara.

Suara sendok beradu dengan piring terdengar terlalu jelas dalam kesunyian rumah.

Sampai akhirnya—

“Ayah enggak bisa nutupin ini terus.”

Ayah berhenti bergerak.

Tangannya menggantung di udara beberapa detik.

Aku menatapnya lurus.

“Rania hampir masuk ke sumur.”

Wajah ayah langsung mengeras.

“Dan sekarang sesuatu itu mulai pakai wajah manusia.”

Suasana mendadak berat.

Aku bisa melihat napas ayah sedikit gemetar.

“Ayah tahu semua ini dari awal, kan?”

Tidak ada jawaban.

“Kalau ayah masih diem…” suaraku mulai meninggi, “…kita semua bakal mati di rumah ini.”

Kalimat itu akhirnya menghancurkan sesuatu dalam diri ayah.

Ia menunduk pelan.

Lama sekali.

Dan ketika akhirnya bicara…

suaranya terdengar sangat lelah.

“Ayah enggak pernah berniat nyeret keluarga kita ke dalam semua ini.”

Hujan tipis mulai turun lagi di luar rumah.

Ayah duduk diam cukup lama sebelum akhirnya mulai bercerita.

Dan untuk pertama kalinya…

ia menceritakan semuanya tanpa berusaha menghindar.

“Tahun sembilan delapan itu…” katanya lirih, “…orang-orang udah enggak mikir benar atau salah lagi.”

Tatapannya kosong menembus jendela.

“Kami cuma takut.”

Aku diam mendengarkan.

“Malam-malam di desa muali sepi. Orang enggak berani keluar. Tiap hari ada kabar rumah dibakar di kota-kota kabupaten.”

Ayah mengusap wajahnya perlahan.

“Warung mulai kosong. Beras mahal. Orang rebutan minyak tanah.”

Aku teringat kliping koran yang kutemukan di loteng.

Krisis Moneter.

Kerusuhan.

Lihat selengkapnya